Keinginan untuk menikah sering kali hadir bersama rasa berbunga-bunga. Namun, kesiapan untuk menikah bukan sekadar soal perasaan cinta yang menggebu, melainkan tentang kematangan dalam memandang komitmen jangka panjang.
Seseorang yang benar-benar siap menikah biasanya tidak lagi melihat pernikahan sebagai pelarian dari kesepian atau tekanan sosial, tetapi sebagai keputusan sadar untuk bertumbuh bersama pasangan dalam suka dan duka.
Psikolog Klinis Dewasa, Pingkan Rumondor mengatakan ada dua tanda seseorang siap menikah secara psikologis. Yang pertama, kesiapan individu dan kesiapan hubungan atau relasi.
Orang akan siap menikah ketika sudah berhasil mengelola emosinya sendiri, berhasil paham dengan emosinya sendiri, orang itu tau kapan harus mengelola emosi marah dan stres.
Jadi itu menurutku tanda psikologis yang paling penting, di luar kesiapan lain kayak finansial, dia bisa kerja mempertahankan kerjaan, itu penting. Tapi kalau dari sisi psikologi siap menikah kalau dia bisa mengenali dan mengelola emosinya,”
ujar Pingkan kepada owrite, Senin, 16 Februari 2026.
Yang kedua, lanjut Pingkan, seseorang yang siap menikah secara psikologi bisanya memiliki kemampuan untuk menjalin relasi, mulai dari kemampuan berkomunikasi, kemampuan mengelola stres pasanagn.
Dalam komunikasi itu yang tak kalah penting adalah kemampuan mendengarkan dan memahami pasangan, berempati dengan pasangannya itu penging banget,”
tandasnya.
