Iran mengonfirmasi meninggalnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei usai serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026. Kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi Republik Islam yang telah dipimpinnya sejak 1989, satu dekade setelah naik ke tampuk kekuasaan dalam revolusi teokratis yang menggulingkan monarki Iran dan mengguncang Timur Tengah.
Media pemerintah Iran sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa banyak keluarga Khamenei yang sudah meninggal. Di antaranya termasuk anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, serta menantu laki-laki.
Dilansir dari BBC, Iran secara resmi mengumumkan 40 hari masa berkabung atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.
Lantas siapa sosok Ayatollah Ali Khamenei?
Ayatollah Ali Khamenei merupakan Marja Muslim Syiah dan pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Ia merupakan keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW dari jalur Husaini.
Sebagai ulama berpengaruh dalam tradisi Syiah Dua Belas Imam, Khamenei mendapat gelar kehormatan Ayatollah, meskipun gelar ini juga dimiliki oleh lebih dari 100 ulama Syiah lainnya. Secara politik, ia dikenal dengan gelar resmi rahbar, yang berarti “pemimpin” atau “pemimpin tertinggi”.
Pria kelahiran 19 April 1939 itu masuk seminari setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya. Ia melanjutkan pendidikan klasikalnya hingga tahun kedua sekolah menengah atas dan menerima pendidikan seminari di seminari Masyhadc Najaf, dan Qom.
Setelah Revolusi Iran tahun 1978, Khamenei menjadi anggota Dewan Revolusi, Imam Salat Jumat Teheran, dan Wakil Menteri Pertahanan. Setelah itu, ia menjadi wakil Teheran di Majelis Permusyawaratan Islam untuk satu periode dan Presiden Iran untuk dua periode.
Usai revolusi Iran menggulingkan Shah, dia menjadi target percobaan pembunuhan pada Juni 1981 yang melumpuhkan lengan kanannya. Khamenei adalah salah satu pemimpin Iran selama Perang Iran-Irak pada 1980-an, dan mengembangkan hubungan dekat dengan Pengawal Revolusi.
Dilansir dari britannica.com, Khamenei, memegang peran penting dalam mempersenjatai negara dan memperkuat otoritas absolut di Kantor Pemimpin Tertinggi. Sebagai arsitek kebangkitan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Khamenei menjadikannya alat kontrol domestik sekaligus pengaruh regional.
Strategi keamanan nasional Iran juga dipusatkan pada kemampuan nuklir sebagai bentuk pertahanan dan pencegahan.
Sebagai seorang pragmatis garis keras, Khamenei secara sistematis menyingkirkan kaum kiri, ulama moderat, dan para pembangkang. Namun, dalam situasi tertentu, ia bersedia melonggarkan cengkeramannya demi menjaga legitimasi atau kohesi rezim.
Sejak 2011, Khamenei mendorong konsep “economy of resistance”, ekonomi mandiri yang tahan sanksi, mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak, dan mendorong produksi domestik serta ekspor non-migas. Melalui organisasi filantropi negara (bonyads) dan IRGC, ia meningkatkan kendali atas ekonomi. Kini ia menguasai setengah GDP Iran melalui sektor minyak, energi, dan konstruksi.


