Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, mempertanyakan wacana Presiden Prabowo Subianto untuk terbang ke Teheran dan menjadi mediator konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Pernyataan kesiapan Prabowo itu sebelumnya disampaikan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia beberapa jam setelah Israel bersama Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke ibu kota Iran.
Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis,”
ucap Dino melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, pada Minggu, 1 Maret 2026.
Menurut Dino, ada sejumlah alasan mengapa rencana tersebut sulit diwujudkan. Pertama, ia menilai Amerika Serikat jarang menerima mediasi pihak ketiga ketika sedang melakukan operasi militer.
Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu,”
katanya.
Ia juga meyakini Presiden AS Donald Trump tidak akan menghendaki keterlibatan Indonesia dalam konflik tersebut. Dino menilai saat ini Trump tengah fokus pada upaya menggulingkan pemerintahan Iran.
Minimnya Kedekatan Indonesia-Iran
Dino menyoroti hubungan diplomatik Indonesia dan Iran yang dinilai belum cukup erat dalam periode pemerintahan saat ini. Ia mencatat dalam 15 bulan terakhir belum ada kunjungan Presiden Prabowo ke Iran maupun pertemuan dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Walaupun belakangan ini ada undangan dari Iran yang dilayangkan kepada beliau,”
katanya.
Ia juga menyebut tidak ada pertemuan bilateral di sela forum internasional seperti BRICS maupun D-8 Organization for Economic Cooperation. Selain itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono juga belum melakukan kunjungan bilateral ke Teheran.
Walaupun pernah bertemu sekali dengan Menlu Iran di Jenewa. Dengan kata lain, belum ada suatu kedekatan atau trust dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia sekarang ini,”
kata Dino.
Tidak Mungkin Trump dan Rubio ke Teheran
Dino juga menilai skenario mediasi sulit terwujud karena kecil kemungkinan Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersedia datang ke Teheran.
Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini,”
ujar Dino.
Alasan terakhir yang disampaikan Dino berkaitan dengan implikasi politik dalam negeri. Menurutnya, proses mediasi mengharuskan Presiden Prabowo bertemu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai salah satu pihak utama dalam konflik.
Dino menegaskan pertemuan tersebut hampir mustahil dilakukan, baik dari sisi politik, diplomatik, maupun logistik. Ia bahkan menyebut bahwa pertemuan antara Prabowo dan Netanyahu berpotensi menjadi political suicide bagi Presiden di dalam negeri.
Saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini agar Presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga ini,”
kata Dino.
Pernyataan Dino Patti Djalal memunculkan perdebatan mengenai sejauh mana Indonesia dapat memainkan peran strategis dalam konflik internasional yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, langkah diplomasi dinilai memerlukan kalkulasi matang baik dari sisi geopolitik maupun kepentingan nasional.

