Pemerintah Iran memastikan sejumlah pejabat tinggi militer tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan zionis Israel yang terjadi pada Sabtu waktu setempat.
Dikutip Aljazeera pada Minggu, 1 Maret 2026, kantor berita resmi IRNA melaporkan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdul Rahim Mousavi, serta Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh termasuk di antara korban tewas dalam serangan tersebut.
Konfirmasi ini menambah daftar korban tewas dari serangan jahat AS-Israel, di mana Teheran juga telah mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, penasihat keamanannya Ali Shamkhani, serta Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mohammad Pakpour.
IRNA menyebut masih ada sejumlah komandan militer lain yang turut menjadi korban. Namun, identitas mereka akan diumumkan kemudian.
Serangan ini menjadi pukulan besar bagi struktur kepemimpinan militer dan politik Iran, sekaligus menandai eskalasi paling serius dalam konflik terbaru di kawasan.
Publik Terbelah, Ketegangan Meningkat
Sementara itu, di tengah situasi tersebut, kondisi sosial masyarakat di Iran menunjukkan polarisasi yang semakin tajam.
Sebagian masyarakat menyatakan dukungan terhadap pemerintahan. Tayangan televisi pemerintah memperlihatkan warga turun ke jalan di Teheran, Mashhad, dan Qom sebagai bentuk solidaritas terhadap kepemimpinan negara.
Namun di sisi lain, gelombang ketidakpuasan publik tetap terasa. Pada Desember tahun lalu, protes besar sempat pecah akibat tekanan ekonomi yang membebani masyarakat. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi kritik terhadap kebijakan sosial dan politik pemerintah.
Secara umum, masyarakat Iran kini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu:
- Pendukung pemerintah,
- Kelompok yang tidak puas terhadap kinerja penguasa, serta
- Kelompok “abu-abu” yang berada di tengah.
Meski berbeda sikap politik, ada satu kesamaan yang dirasakan luas yaitu frustrasi dan kecemasan. Kematian Khamenei dan para pejabat tinggi terjadi saat Iran berada dalam kondisi diserang, memperbesar rasa ketidakpastian di tengah publik.
Jika pada Juni tahun lalu Iran sempat mengalami perang, situasi kali ini dinilai jauh lebih besar dari sisi skala dan dampaknya. Taruhannya pun lebih tinggi, baik secara politik, militer, maupun sosial.
Konflik yang terus meluas kini bukan hanya menguji ketahanan pertahanan Iran, tetapi juga kohesi internal masyarakatnya.

