Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin 9 Maret 2026 mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait meningkatnya ketegangan geopolitik yang juga berdampak pada pasar global.
Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar di tengah situasi yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah.
Melalui platform media sosial X, Araghchi menyoroti dampak ekonomi yang muncul sejak dimulainya operasi militer terbaru di kawasan tersebut.
Sembilan hari sejak Operasi Epic Mistake, harga minyak telah berlipat ganda sementara seluruh komoditas melonjak tajam,”
tulis Aragachi.
Pernyataan itu menyoroti bagaimana konflik geopolitik dapat memicu gejolak di pasar energi global dan memengaruhi harga komoditas internasional.
Iran Tuduh AS Bersekongkol Targetkan Fasilitas Strategis
Araghchi juga menuding Washington memiliki rencana untuk menyerang fasilitas strategis Iran. Dia menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk meredam dampak inflasi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.
Amerika Serikat sedang bersekongkol untuk menargetkan fasilitas minyak dan nuklir kami dengan harapan dapat menahan guncangan inflasi yang sangat besar,”
ujarnya.
Dalam pernyataan yang sama, Araghchi menegaskan kesiapan Iran untuk menghadapi perkembangan situasi yang semakin tegang. Ia juga menyampaikan peringatan lebih lanjut dengan mengatakan bahwa Teheran telah menyiapkan berbagai langkah strategis.
Iran sepenuhnya siap, kami juga memiliki banyak kejutan yang telah disiapkan jika memang harus dikeluarkan,”
tutur Aragachi.
Eskalasi Konflik Iran, AS, dan Israel
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurut Pentagon, lebih dari 50.000 tentara Amerika Serikat terlibat dalam operasi militer tersebut. Operasi itu disebut sebagai Operasi Epic Fury yang menjadi salah satu operasi militer terbesar di kawasan dalam beberapa waktu terakhir.
Sebagai respons atas serangan tersebut, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal. Target serangan mencakup beberapa negara di kawasan, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut disebut Iran sebagai bagian dari tindakan pertahanan diri di tengah meningkatnya konflik regional.

