Sebagian besar para ahli menilai saat ini kondisi ekonomi Indonesia telah memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Bahkan dalam tiga bulan ke depan diperkirakan, laju pertumbuhan ekonomi tetap tidak berubah dari angka terkini.
Temuan ini tertuang dalam Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI Semester I 2026.
Dalam survei ini, 41 dari 85 ahli atau setara 48 persen menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini telah memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Sedangkan 32 atau 38 persen ahli tidak melihat adanya perbaikan maupun penurunan.
Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan, dengan skor keyakinan yang tinggi sebesar 7,37 dari 10,”
tulis laporan tersebut dikutip Selasa, 17 Maret 2026.
Tim LPEM UI menilai bahwa hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan Maret 2025, yang menunjukkan bahwa setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan para ahli masih meyakini kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik.
Inflasi Naik
Para ahli juga menilai bahwa tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia meningkat dibandingkan tiga bulan lalu. Sebagian besar, yakni 57 dari 85 ahli atau 67 persen memandang inflasi telah naik, dan 23 atau 27 persen ahli menilai tidak berubah, dan 5 ahli melihat inflasi mereda.
Kondisi ini mengindikasikan sinyal bahwa kenaikan inflasi secara bertahap akan menggerus daya beli masyarakat Indonesia. Sebab, rata-rata respons sebesar +0,71 mencerminkan kecenderungan yang jelas ke arah meningkatnya tekanan inflasi pada periode saat ini.
Ini merupakan sinyal yang mengkhawatirkan, karena meningkatnya tekanan inflasi berarti harga barang dan jasa semakin tinggi, yang secara bertahap menggerus daya beli masyarakat Indonesia,”
katanya.
Pasar Tenaga Kerja Lesu
Kemudian mayoritas ahli yakni 30 atau 35 persen menilai, kondisi pasar tenaga kerja tidak berubah dibandingkan tiga bulan lalu. Ahli yang menganggap kondisinya semakin ketat sebesar 44 ahli atau 56 persen cukup untuk menarik penilaian keseluruhan ke wilayah negatif, dan menyisakan hanya 11 ahli yang menilai pasar tenaga kerja melonggar.
Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi tanda bahwa angka pengangguran naik dan pertumbuhan upah terhambat. Sehingga menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri.
Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian,”
bunyi laporan itu.
Lingkungan Bisnis Memburuk
Di samping itu, para ahli menilai menilai lingkungan bisnis saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Sebanyak 38 ahli menilai kondisi lebih buruk, 25 ahli melihat tidak berubah, dan 14 ahli menilai jauh lebih buruk. Artinya, kategori negatif ini secara gabungan menggambarkan iklim bisnis yang suram.
Hasil ini menunjukkan penurunan dari penilaian yang sempat membaik pada putaran sebelumnya (-0,45), mengonfirmasi bahwa perbaikan singkat dalam sentimen para ahli tidak bertahan lama karena kondisi kembali dinilai berada dalam lintasan menurun,”
katanya.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Tak Berubah
Bila melihat dalam tiga bulan ke depan, para ahli umumnya memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi akan tetap tidak berubah dari angka terkini. Pasalnya, sebagian besar yakni 36 ahli berbagi pandangan ini, diikuti 28 ahli yang mengantisipasi memburuknya kondisi, dan 21 ahli memperkirakan perbaikan.
Rata-rata respons sebesar -0,11 berada tepat di titik netral, hal ini mencerminkan ekspektasi kolektif akan stagnasi secara umum dengan kecenderungan sedikit ke bawah. Skor keyakinan yang relatif moderat sebesar 7,47 mengindikasikan adanya ketidakpastian di kalangan para ahli.
Prospek pertumbuhan yang lesu umumnya mengarah pada aktivitas bisnis yang stagnan dan pengeluaran konsumen yang berhati-hati dalam beberapa bulan ke depan. Angka ini mencerminkan sedikit perbaikan dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar -0,13, meski perbedaannya sangat kecil dan tidak cukup untuk mengindikasikan pergeseran yang berarti dalam sentimen para ahli,”
imbuhnya.

