Pelaksanaan mudik Lebaran 2026, Pelabuhan Gilimanuk di Bali mengalami kelumpuhan parah dengan antrean kendaraan mengular hingga 45 kilometer mencapai Kota Jembrana.
Kondisi ini memicu desakan agar pemerintah segera membenahi sistem penyeberangan Jawa-Bali dan memperluas jangkauan program mudik gratis.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menyebutkan faktor utama penyebab kemacetan di Pelabuhan Gilimanuk:
- Arus mudik Lebaran dengan arus keluar Bali menjelang Nyepi. Hal ini menyebabkan volume kendaraan melonjak tajam dalam waktu bersamaan;
- Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan tanpa tiket atau kode reservasi sehingga arus sulit dikendalikan;
- Penambahan armada kapal dan pembangunan jalan tol tidak dibarengi dengan penambahan dermaga. Kapal terpaksa antre bersandar, memicu efek domino penumpukan kendaraan;
- Mayoritas kendaraan datang bersamaan dalam waktu singkat;
- Akibat pelataran parkir pelabuhan penuh, jalan raya beralih fungsi menjadi area penyangga (buffer zone) darurat yang mematikan akses lalu lintas sekitar.
Khoiri menilai lintasan Jawa-Bali sangat berisiko karena hanya mengandalkan poros tunggal Ketapang-Gilimanuk, tanpa ada pelabuhan alternatif yang sepadan. Kondisi berbanding terbalik terjadi di lintas Jawa-Sumatera. Pelabuhan Merak yang dikhususkan untuk mobil dan bus dianggap belum beroperasi maksimal di tengah tingginya kapasitas infrastruktur.
Kelancaran di Merak terbantu oleh ketersediaan pelabuhan alternatif seperti Ciwandan dan Panjang, area buffer zone yang luas, serta keberhasilan penerapan tarif tiket tunggal oleh PT ASDP sejak 2025 yang mengurai sumbatan di dermaga. Namun, antrean panjang justru terjadi di Pelabuhan BBJ Bojanegara bagi truk logistik akibat aturan yang dinilai kurang fleksibel.
Menyikapi hal ini, Gapasdap merekomendasikan pemerintah untuk mengevaluasi Surat Keputusan Bersama (SKB) agar kapasitas besar Pelabuhan Merak dapat dimanfaatkan secara proporsional.
Merespons tingginya angka pemudik motor yang mendominasi antrean di Gilimanuk, Akademisi Bidang Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno berpendapat akar masalahnya ada pada krisis angkutan umum di daerah.
Pemerintah tidak bisa hanya melarang pemudik motor tanpa membenahi akar masalahnya: hancurnya layanan transportasi umum di daerah,”
kata Djoko kepada owrite, Selasa, 24 Maret 2026.
Djoko menyoroti matinya angkutan pedesaan dan belum dimanfaatkannya Dana Desa untuk memperkuat transportasi umum lokal. Akibatnya, masyarakat terpaksa menempuh risiko mudik menggunakan motor, lantaran kampung halamannya tidak lagi terlayani angkutan umum. Sebagai solusi jangka pendek, ia menyarankan program mudik gratis diperluas.
Penyelenggaraan program mudik gratis dari Bali menuju Jawa Timur pada tahun 2027 menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi,”
ujar dia.
Langkah ini dinilai akan sangat efektif untuk meningkatkan keselamatan jalan sekaligus memberikan alternatif transportasi yang lebih manusiawi bagi pemudik.
Dengan menyediakan alternatif transportasi umum yang lebih aman, pemerintah dapat secara signifikan mengurangi ketergantungan pemudik pada sepeda motor, sekaligus memberikan perlindungan nyata bagi para pekerja di Bali yang hendak pulang ke kampung halaman,”
tutur Djoko.
Prediksi Puncak
Wakil Direktur Utama PT Indonesia Ferry (Persero), Yossianis Marciano menyebut puncak arus balik di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk diprediksi terjadi pada 26-29 Maret.
Kami mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menentukan waktu perjalanan saat arus balik,”
kata dia, Senin, 23 Maret 2026.
Ia pun mengimbau kepada para pengguna jasa untuk mengatur jadwal perjalanan lebih awal atau memilih waktu di luar periode puncak arus balik, sehingga perjalanan tetap nyaman tanpa harus menghadapi antrean. Selain itu, pemudik diimbau membeli tiket secara mandiri melalui platform digital Ferizy, serta memastikan kedatangan di pelabuhan sesuai jadwal.
Pergerakan arus balik hingga H+1 Lebaran 2026 di penyeberangan Selat Bali itu mulai meningkat. Namun, Yossianis mengklaim pelayanan di Pelabuhan Ketapang maupun Pelabuhan Gilimanuk tetap berlangsung lancar, tertib, dan berada dalam kendali optimal.


