Harga minyak dunia anjlok lagi di tengah sinyal baru dari Amerika Serikat (AS) terkait potensi negosiasi dengan Iran. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington dan Teheran sedang membuka jalur komunikasi langsung langsung meredam ketegangan pasar energi global.
Dikutip dari CNBC pada Rabu, 25 Maret 2026, harga minyak mentah acuan global Brent terkoreksi hampir 6 persen ke level US$98,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS juga melemah sekitar 5 persen ke posisi US$87,65 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah Trump mengungkapkan bahwa AS saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan Iran, meskipun Teheran sebelumnya membantah adanya negosiasi langsung antara kedua negara.
Berbicara dari Oval Office, Trump menyatakan dirinya menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses negosiasi yang sedang berjalan.
Mereka sedang berbicara dengan kami, dan mereka berbicara dengan masuk akal,”
klaim Trump.
Sinyal tersebut diperkuat laporan media AS yang menyebut Washington telah mengirim proposal berisi 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik. Proposal itu disebut disalurkan melalui Pakistan, meski belum jelas sejauh mana dokumen tersebut telah dibahas di internal pemerintah Iran.
Selain itu, belum ada kepastian apakah Israel—yang selama ini terlibat dalam serangan bersama AS ke Iran—akan mendukung skema perdamaian tersebut. Di sisi lain, analis menilai gejolak harga minyak saat ini tidak semata dipicu faktor fundamental, melainkan lebih didorong oleh dinamika geopolitik.
Goldman Sachs mencatat gangguan pasokan minyak saat ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade jika dilihat dari proporsi terhadap pasokan global. Kondisi ini membuat pasar bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan politik.
Bank investasi tersebut menilai harga minyak saat ini diperdagangkan dengan premi risiko geopolitik yang tinggi, seiring kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan berkepanjangan dan menipisnya cadangan global.
Meski demikian, Goldman Sachs memperkirakan skenario dasar masih mengarah pada normalisasi aliran minyak melalui Selat Hormuz pada April mendatang, dengan asumsi deeskalasi terjadi dalam waktu sekitar empat minggu.


