Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Selasa, 31 Mar 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Spill
  • DPR
  • BMKG
  • Banjir
  • sumatera
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Darurat Kesehatan Mental Anak Indonesia: Terhimpit Tekanan Hidup yang Tak Pernah Mereka Pilih
Nasional

Darurat Kesehatan Mental Anak Indonesia: Terhimpit Tekanan Hidup yang Tak Pernah Mereka Pilih

Syifa FauziahAmin Suciady
Last updated: Maret 25, 2026 5:54 pm
Syifa Fauziah
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi tekanan kesehatan mental pada. (Gambar dibuat oleh AI)
Gambar ilustrasi tekanan kesehatan mental pada. (Gambar dibuat oleh AI)
SHARE

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan hasil temuan dari pogram Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, bahwa ada indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.

Daftar isi Konten
  • Pantau Kondisi Psikologis Anak
  • Kompleksitas Masalah
  • Bimbingan Konseling Tak Maksimal
  • Upaya Pemerintah

Dari hasil temuan itu, sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, sebanyak 700.000 terdeteksi mengalami gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan. 

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,”

ujar Budi dalam keterangannya.

Menkes menjelaskan, masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pertemanan, serta pendidikan.

Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,”

katanya.

Menurutnya, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Seperti belum lama ini Indonesia digemparkan oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa tersebut diduga bunuh diri, dipicu karena adanya tekanan sosial ketidakmampuan orang tuanya membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah, hingga membuatnya stres dan mengakhiri hidup. 

Pantau Kondisi Psikologis Anak

Guru Besar Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi, mengatakan peristiwa seperti ini seharusnya menjadi peringatan bagi masyarakat tentang pentingnya pemantauan kondisi psikologis anak-anak di lingkungan sekitar mereka.

Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan. Juga kurangnya akses terhadap layanan psikologis membuat anak-anak merasa terisolasi dan tidak memiliki dukungan yang cukup,”

ujarnya.

Prof Bagong menambahkan, bahwa keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam mendeteksi tanda-tanda adanya masalah emosional atau psikologis pada anak. 

Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,”

tegasnya.

Kompleksitas Masalah

Sementara itu, Psikolog sekaligus Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, mengatakan permasalah yang dialami anak cukup kompleks sehingga menyebabkan mereka mudah depresi. 

Seto menyebut masalah anak sendiri mulai dari sekolah, seperti bullying, sistem pengajaran yang tidak ramah anak, hingga beban akademik yang terlaku berat.

Selain itu juga banyak orang tua yang tidak menghargai kemampuan anak. Ada anak yang pintar nyanyi, pintar menari, dan pintar menggambar tapi dituntut untuk akademik saja,”

katanya.

Menurut Seto, sejauh ini peran sekolah belum cukup memberi pendampingan kepada siswa. Masih banyak terjadi tekanan akademik, di mana ranking selalu menjadi acuan. Seolah-olah yang pinter itu berurutan, tapi yang diukur hanya etiknya saja.

Tapi etikanya tidak, estetikanya tidak, kemampuan olahraganya tidak, dan sebagainya. Makanya mungkin istilah wajib belajar itu diganti menjadi hak belajar. Buat setiap anak berhak untuk belajar, tapi dengan cara yang berbeda. Jadi ada sistem formal, sekolah yang tiap hari masuk, tapi ada non-formal juga, mungkin hanya dua atau tiga kali, tapi banyak yang lebih efektif,” 

terangnya.

Tekanan ekonomi juga berdampak pada masalah kesehatan mental pada anak. Para orang tua jadi mudah marah hingga terkadang kurang ramah pada anak dan menyebabkan kekerasan. 

Kurang adanya komunikasi yang efektif, anak tidak didengarkan, tapi terus disuruh dan dituntut banyak hal. Jadi hal ini yang membuat anak semakin tertekan, akhirnya antara melawan atau kabur. Kaburnya ke dunia sosial atau ke dunia lain (mengakhiri hidup),”

jelas Seto.

Lebih lanjut Seto mengatakan, gejala cemas dan depresi pada anak juga dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat. Menurutnya, di Indonesia sendiri masyarakatnya belum ramah anak. Oleh karena itu, LPAI membentuk Seksi Perlindungan Anak Tingkat Rukun Tetangga atau SPARTA. Satgas ini bertujuan untuk membuat lingkungan sekitar lebih peduli terhadap anak-anak.

Bahwa anak di lingkungan sini ya anak kita bersama. Bahwa perlindungan anak perlu orang sekampung. Jadi, misalnya bapak ibunya sibuk nih, tetangganya peduli,”

ucap Kak Seto.

Menurut Kak Seto, hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menghindari anak mengalami depresi adalah dengan tersenyum. 

Namun kembali lagi, orang tuanya juga harus sehat mental dulu. Mau masalah ekonomi, mau masalah perceraian, mau masalah konflik, di tingkat ini begitu dengan anak ada masalah, itu harus senyum,”

katanya.

Bimbingan Konseling Tak Maksimal

Di sisi lain, Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini mengatakan ada banyak faktor yang menyebabkan seorang anak mengalami depresi. Mulai dari tekanan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga keluarga.

Dampak jangka panjangnya saya kira faktor penyebab bunuh diri bisa dijadikan alasan kenapa anak banyak yang depresi,”

kata Diyah.

Sementara itu, terkait kehadiran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah menurut Diyah masih jauh dari kurang jumlah ideal. Berdasarkan koordinasi KPAI dengan Irjend Kemendikdasmen, saat ini kekurangan guru BK 95.000 untuk tingkat SMP/SMA. 

Sementara untuk SD belum ada guru BK. Ini juga persoalan tersendiri. Sementara guru BK belum banyak yang tentang pendampingan kesehatan mental, hanya sebatas tugas di sekolah dan administratisi,”

ucapnya.

Ia pun mengapresiasi temuan gejala depresi dan kecemasan pada anak oleh Kemenkes. Menurutnya, jika pemerintah sudah memiliki data lengkap by name by adress, agar sedini mungkin bisa melibatkan lintas kementerian lembaga untuk mencegah dan melakukan pendampingan untuk anak-anak tersebut.

Upaya Pemerintah

Saat ini pemerintah juga mempercepat pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang jumlahnya masih terbatas, yakni sekitar 203 orang. Selain itu, pemerintah menyiagakan layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id guna mendukung intervensi cepat.

Di sektor pendidikan, Kemenkes mendorong peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan guru kelas untuk mendampingi siswa yang terdeteksi memiliki gejala.

Upaya deteksi dini ini juga diperkuat melalui penandatanganan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak oleh sembilan kementerian dan lembaga pada Kamis, 5 Maret 2026.

Kolaborasi tersebut bertujuan membangun sistem penanganan kesehatan jiwa anak yang terintegrasi, mulai dari pencegahan (promotif-preventif) hingga pengobatan (kuratif-rehabilitatif).

Sembilan instansi yang terlibat meliputi Kemenkes, KemenPPPA, Komdigi, Kemendikdasmen, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, dan Polri.

Melalui SKB tersebut, pemerintah juga menjamin kerahasiaan data pribadi anak guna mencegah stigma serta memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan mental secara komprehensif, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.

Tag:anak anakBerita PentingBullyingKesehatan JiwaKesehatan MentalPsikologisSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Ilustrasi penyakit campak
Kesehatan

Jangan Abai, Campak Memicu Komplikasi Pneumonia hingga Kematian

Kasus campak semakin mengkhawatirkan setelah banyak kabar pasien, baik anak-anak maupun dewasa yang meninggal dunia. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga minggu ke-11 tahun 2026, tercatat sebanyak 58 KLB…

By
Syifa Fauziah
Ivan
5 Min Read
Petugas Pertamina melayani pemudik yang mengisi bahan bakar kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) modular, KM 37 rest area tol Banda Aceh-Sigli, Aceh Besar, Aceh
Nasional

Isu Kenaikan BBM 1 April Dibantah, Ini Penjelasan DPR

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, memastikan bahwa tidak akan ada perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), baik subsidi maupun non-subsidi, pada Rabu, 1 April 2026. Keputusan ini disampaikan…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
3 Min Read
biji plastik (sumber: chandra-asri.com)
Ekonomi Bisnis

Pasokan Bahan Baku Nyaris Lenyap Imbas Perang Timur Tengah, Industri Plastik RI ‘Megap-megap’

Konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat (AS)-Israel telah membuat harga minyak dunia melambung tinggi. Akibatnya, industri Tanah Air kini sudah menghadapi tekanan serius, karena bahan baku plastik…

By
Anisa Aulia
Amin Suciady
3 Min Read

BERITA LAINNYA

Hakim Konstitusi Arsul Sani (kiri) bersama Anwar Usman (kanan) memimpin sidang pembacaan putusan Pengujian Materiil Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Mahkamah Konstitusi, Jakarta
Nasional

Jelang Anwar Usman Pensiun, Syarat ‘Negarawan’ Hakim MK Baru Dinilai Semu

Dinamika di tubuh Mahkamah Konstitusi (MK) termasuk wacana pergantian Hakim Konstitusi Anwar…

owrite-adi-briantikadusep-malik
By
Adi Briantika
Dusep
43 menit lalu
Caption: TAUD beraudiensi dengan jajaran Komnas HAM dalam penanganan kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras Andrie Yunus, 31 Maret 2026, di kantor Komnas HAM.
Nasional

Datangi Komnas HAM, TAUD Tolak Pelimpahan Berkas Kasus Andrie Yunus ke Puspom TNI

Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) beraudiensi dengan jajaran Komnas HAM dalam penanganan…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
1 jam lalu
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya
Nasional

Kasus Penyiraman Air Keras Disorot, KontraS Desak Presiden Bentuk Tim Khusus

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan meminta DPR RI untuk…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
1 jam lalu
Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni
Nasional

Tak Mau Tuai Protes, DPR Libatkan Advokat dalam Penyusunan RUU

Komisi III DPR RI membuka ruang seluas-luasnya bagi partisipasi publik dalam pembahasan…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
2 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up