Asian Development Bank (ADB) menawarkan paket dukungan keuangan, untuk membantu anggotanya yang masuk ke dalam negara-negara berkembang. Bantuan itu untuk memitigasi dampak ekonomi dan keuangan yang timbul akibat konflik di Timur Tengah.
Presiden ADB Masato Kanda mengatakan pihaknya akan memberikan dukungan yang cepat, fleksibel, dan menyesuaikan kebutuhan masing-masing negara.
ADB akan memberikan dukungan yang cepat, fleksibel, dan dapat disesuaikan untuk membantu negara-negara mengatasi tekanan mendesak dan memperkuat ketahanan jangka panjang, terutama melalui dukungan anggaran yang dapat dicairkan dengan cepat serta pembiayaan perdagangan dan rantai pasokan guna menjamin impor barang-barang penting, yang kini mencakup minyak,”
ujar Masato dalam keterangannya dikutip Kamis, 26 Maret 2026.
Masato menyatakan, ADB memiliki kapasitas keuangan yang cukup untuk melindungi operasi yang sedang berjalan maupun yang direncanakan. Hal ini sekaligus memperluas dukungan darurat sesuai dengan kebutuhan negara-negara anggota, termasuk dengan memanfaatkan cadangan pinjaman kontra-siklusnya.
Analisis terbaru ADB menunjukkan, gangguan pada rute pengiriman telah menyebabkan kenaikan biaya dan waktu pengiriman. Sementara risiko pasokan tidak hanya mencakup sektor energi, tetapi juga bahan baku industri utama seperti petrokimia dan pupuk, yang berdampak serius terhadap pertanian dan produksi pangan.
Menurutnya, perekonomian negara yang bergantung pada pariwisata dan pengiriman uang menghadapi kerentanan yang semakin parah di luar guncangan awal tersebut. Konflik ini pun meningkatkan ketidakpastian dan memperketat kondisi keuangan di seluruh kawasan, sehingga memberikan tekanan pada mata uang dan arus modal.
Maka dari itu, Masato menjelaskan respons ADB adalah siap memberikan dukungan keuangan dan teknis yang tepat waktu untuk membantu negara-negara anggota mengelola risiko, menjaga stabilitas makroekonomi, dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan.
Ada dua komponen utama dalam intervensi ADB. Pertama dukungan anggaran yang disalurkan dengan cepat untuk membantu negara-negara anggota yang menghadapi tekanan fiskal yang meningkat.
Dukungan itu, utamanya penggunaan fasilitas dukungan kontrasiklus bank untuk membantu pemerintah menstabilkan perekonomian mereka dan memitigasi dampak guncangan terhadap kehidupan dan mata pencaharian mereka yang paling berisiko.
Kedua, Program Pembiayaan Perdagangan dan Rantai Pasokan (TSCFP) ADB, yang mendukung sektor swasta untuk memastikan impor penting, termasuk energi dan pangan, tetap mengalir.
Masato mengatakan, pihaknya juga telah memutuskan untuk mengaktifkan kembali dukungan untuk impor minyak di bawah program ini untuk periode terbatas. Keputusan ini dipicu oleh perekonomian dan kondisi masyarakat di seluruh kawasan ini yang sangat terpengaruh oleh lonjakan harga minyak yang cepat dan terganggunya rantai pasokan.
Masato mengungkapkan, pihaknya sudah memulai pembicaraan dengan semua negara anggota yang terkena dampak parah mengenai kemungkinan memberikan dukungan segera.
Kemudian ADB akan terus bekerja sama erat dengan pemerintah, mitra pembangunan, serta sektor swasta untuk memastikan respons yang terkoordinasi dan efektif guna menjaga stabilitas ekonomi serta melindungi masyarakat miskin dan kelompok yang paling rentan.
ADB tegas Masato, akan terus memantau perkembangan pasar global dan implikasinya terhadap perekonomian di kawasan Asia dan Pasifik, terutama terkait fluktuasi harga energi, tekanan inflasi, dan neraca transaksi berjalan.


