Teheran mendapatkan keuntungan dari perangnya dengan Amerika Serikat (AS), dengan ekspor minyak negara tersebut telah mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Laporan itu menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada hari Kamis, 26 Maret 2026.
Tasnim melaporkan bahwa volume ekspor minyak harian Iran melebihi 1,5 juta barel selama bulan Ramadan. Angka ini menandai peningkatan penjualan sekitar 50 persen dibandingkan dengan tingkat sebelumnya.
Kantor berita tersebut juga mengatakan Iran telah menjual minyak dalam jumlah yang lebih besar dengan harga yang lebih dekat dengan patokan global, yang secara langsung meningkatkan pendapatan minyak.
Melansir dari Middle East Monitor, Jumat 27 Maret 2026, meningkatan itu terjadi ketika pasar energi global mengalami volatilitas tajam yang terkait dengan perang yang sedang berlangsung dan keputusan Iran untuk membatasi navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur transit minyak terpenting di dunia.
Diketahui, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat tersebut setiap hari, dan pembatasan itu telah meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi, yang berkontribusi pada kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi di seluruh dunia.
Menurut Asharq Business, Iran kemungkinan telah menghasilkan ratusan juta dolar pendapatan tambahan sejak pecahnya perang, dan diuntungkan dari harga minyak mentah yang lebih tinggi di tengah terbatasnya akses ke selat bagi beberapa eksportir.
Meski demikian, investor tetap khawatir tentang memburuknya ketidakpastian di pasar global karena fasilitas energi di negara-negara Teluk dan Iran terus menghadapi risiko serangan.
Di samping itu, kekhawatiran bahwa infrastruktur energi Iran dapat menjadi sasaran serangan potensial AS atau Israel, yang dapat memiliki konsekuensi ekonomi dan lingkungan yang signifikan.


