Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat. Laporan terbaru menyebut Washington tengah menyiapkan opsi operasi militer darat terbatas yang berpotensi memperluas konflik yang kini telah memasuki minggu kelima.
Menurut laporan The Washington Post, Pentagon sedang merancang skenario operasi cepat yang menargetkan fasilitas strategis Iran, termasuk pusat ekspor minyak dan wilayah pesisir penting.
Rencana operasi tersebut disebut mencakup kemungkinan serangan ke Pulau Kharg salah satu pusat ekspor minyak utama Iran di kawasan Teluk serta area pesisir di sekitar Selat Hormuz.
Wilayah ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi global. Gangguan di area tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu stabilitas ekonomi internasional.
Operasi yang dirancang tidak mengarah pada invasi penuh, melainkan aksi militer terbatas dengan melibatkan pasukan khusus dan infanteri dalam waktu relatif singkat.
Meski bersifat terbatas, operasi ini tetap berisiko tinggi. Pasukan AS diperkirakan akan menghadapi berbagai ancaman, mulai dari serangan drone dan rudal Iran hingga bahan peledak rakitan serta tembakan dari darat.
Sejumlah pejabat menyebut bahwa durasi operasi bisa berlangsung dalam hitungan minggu, meski ada juga yang memperkirakan potensi keterlibatan hingga beberapa bulan.
Gedung Putih: Belum Ada Keputusan Final
Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi dari Presiden Donald Trump terkait pelaksanaan operasi tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa penyusunan opsi militer merupakan prosedur standar.
Merupakan tugas Pentagon untuk membuat persiapan guna memberikan opsi maksimal kepada Panglima Tertinggi. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan,”
kata Leavitt dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera, Senin 30 Maret 2026.
Di tengah meningkatnya ketegangan, militer AS telah memperkuat kehadiran di kawasan Timur Tengah. US Central Command melaporkan bahwa sekitar 3.500 tentara tambahan telah dikerahkan.
Pasukan tersebut tiba menggunakan USS Tripoli, lengkap dengan dukungan jet tempur, pesawat angkut, serta perlengkapan tempur amfibi dan taktis. Selain itu, Washington juga berencana mengirim pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 untuk memperkuat kesiapan militer di kawasan.
Upaya Diplomasi: Pakistan Jadi Mediator
Di tengah potensi eskalasi militer, jalur diplomasi masih terus diupayakan. Pakistan dilaporkan berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran.
Pembicaraan yang berlangsung di Islamabad melibatkan sejumlah negara penting seperti Arab Saudi, Turki, dan Mesir, menunjukkan kekhawatiran global terhadap potensi meluasnya konflik.
Dari pihak Iran, peringatan keras langsung disampaikan oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Tanpa menyadari bahwa orang-orang kami menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kami terus berlanjut. Rudal kami sudah siap,”
kata Ghalibaf, dikutip kantor berita Tasnim.
Tekad dan keyakinan kami telah meningkat. Kami menyadari kelemahan musuh, dan kami dengan jelas melihat dampak ketakutan dan teror di tentara musuh,”
tambahnya.
Ancaman Meluas ke Laut Merah
Iran juga memberi sinyal bahwa konflik dapat meluas ke kawasan lain, termasuk jalur strategis Selat Bab al-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sumber militer Iran menyebut bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membuka front baru di kawasan tersebut. Bahkan, kelompok Houthi di Yaman disebut siap terlibat jika situasi memanas.
Jika operasi darat benar-benar dilakukan, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga secara global. Jalur energi, perdagangan internasional, hingga stabilitas geopolitik berpotensi terganggu.
Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb merupakan dua titik krusial distribusi energi dunia. Gangguan di kedua wilayah ini bisa memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak.



