Tunjangan Hari Raya (THR) menambah pendapatan masyarakat pada periode Ramadan 2026. Namun, fenomena makan tabungan atau dissaving masih terjadi pada Ramadan tahun ini.
Berdasarkan data Mandiri Saving Index, pada pekan ketiga Ramadan 2026 tingkat tabungan kelompok bawah naik 73,6, dibandingkan Februari yang sebesar 72,8.
Begitu juga tabungan kelompok menengah yang naik ke 102,1 pada Ramadan, dibandingkan sebelumnya hanya 100,4. Kenaikan tabungan kedua kelompok itu dikarenakan pencairan THR.
Hal ini menunjukkan adanya tambahan pendapatan, terutama pasca pencairan THR,”
tulis Laporan Economic Update-Akselerasi Belanja Pasca Pencairan THR dikutip Senin, 30 Maret 2026.
Kendati demikian, sebaliknya kondisi tabungan kalangan atas mengalami penurunan. Tabungan kelompok ini turun ke 89,7 dibandingkan sebelumnya yang sebesar 94,3.
Adapun secara umum, pertumbuhan tahunan tabungan semua kelompok di Ramadan 2026 lebih rendah dibanding pertumbuhan di 2025. Artinya, sebagian masyarakat masih mengandalkan tabungan untuk menopang kebutuhan selama periode Ramadan.
Pertumbuhan tahunan tabungan semua kelompok di Ramadan 2026 lebih rendah dibanding pertumbuhan di 2025. Hal ini menunjukkan proses dissaving (makan tabungan), terutama dalam menopang belanja Ramadan, masih terus berlanjut,”
kata laporan itu.
Di samping itu, peningkatan belanja terjadi di seluruh Indonesia. Dari data Mandiri Spending Index minggu ketiga Ramadan 2026, atau sekitar sepekan sebelum Lebaran, belanja naik 0,9 persen, dibanding minggu sebelumnya yang hanya 0,6 persen.
Seluruh wilayah di Indonesia mengalami kenaikan belanja. Namun, belanja tertinggi terjadi di Sumatera sebesar 1,25 persen, diikuti Sulawesi 1,19 persen, Kalimantan 1,15 persen, Maluku & Papua 1,00 persen, Jawa 0,88 persen, serta Bali-Nusa Tenggara sebesar 0,31 persen
Sementara itu, untuk belanja mobilitas tumbuh terbatas. Pada pekan ketiga Ramadan, secara tahunan belanja ini melambat hanya tumbuh 5,2 persen secara year on year (yoy), dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,8 persen yoy. Bahkan, subsektor penerbangan mengalami kontraksi sebesar 3,7 persen.


