Dua prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian di bawah Satgas UNIFIL dilaporkan tewas dalam insiden ledakan saat menjalankan misi pengawalan di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan, Senin, 30 Maret 2026.
Insiden mengerikan itu terjadi di tengah intensitas serangan tinggi di area operasi. Berdasarkan laporan yang diterima Owrite, Selasa, 31 Maret 2026, peristiwa bermula saat Indonesia Task Force Bravo (TFB) melaksanakan tugas pengawalan (escort) terhadap Combat Support Service Unit (CSSU) milik kontingen Spanyol. Misi tersebut juga mencakup pengiriman logistik serta pengantaran peti jenazah dari sektor 7-2 menuju 7-1 di wilayah tanggung jawab INDOBATT.
Sekitar pukul 11.00 waktu setempat, rombongan yang terdiri dari enam kendaraan (ran) bergerak di wilayah Bani Hayyan. Saat hendak berbelok, mendadak terjadi ledakan yang menghantam kendaraan pertama dalam iring-iringan tersebut.
Ledakan itu mengakibatkan kendaraan pertama mengalami kerusakan parah dan menimbulkan korban tewas. Hingga saat ini, penyebab pasti ledakan masih dalam proses penyelidikan.
Kendaraan pertama diketahui membawa empat personel, yakni Komandan Kompi (Danki) Kpt Inf Zulmi, Kapten Inf Sulthan, Sertu Ikhwan, dan Praka Deni. Dari insiden tersebut, Kpt Inf Zulmi dan Sertu Ikhwan dilaporkan gugur di lokasi. Sementara Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni mengalami luka-luka.
Adapun kendaraan kedua yang berada di belakang membawa tiga personel, yakni Praka Ulil Amri, Praka M. Zakariya, dan Pratu Iqbal. Kendaraan ini berhasil keluar dari lokasi serangan.
Namun, dua prajurit yang gugur tidak dapat segera dievakuasi karena tingginya intensitas serangan di lokasi kejadian. Tim lainnya yang berada di lokasi tidak memungkinkan untuk melakukan penarikan korban saat itu.
Sekitar pukul 12.00 waktu setempat, kendaraan kedua berhasil membawa korban luka ke markas Sector East HQ. Lima menit kemudian, dua korban luka mendapatkan penanganan medis awal oleh tim medis China di sektor 7-2.
Evakuasi lanjutan pun dilakukan menggunakan helikopter. Pada pukul 13.45 waktu setempat, Praka Deni diterbangkan menuju Rumah Sakit St. George di Beirut. Sementara selang 10 menit kemudian, Kapten Inf Sulthan juga dievakuasi ke rumah sakit yang sama untuk mendapatkan perawatan intensif.
Pemerintah dan UNIFIL Lakukan Investigasi
Sebelumnya, Kepala Biro Info Pertahanan Kemhan, Brigadir Jenderal TNI, Rico Sirait mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan markas besar UNIFIL untuk memastikan kondisi prajurit TNI yang masih bertugas.
Langkah-langkah evakuasi dan penanganan medis juga telah dilaksanakan secara cepat sesuai prosedur operasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),”
ujar Rico melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 31 Maret 2026
Rico menerangkan dua prajurit yang mengalami luka telah mendapatkan penanganan medis intensif di fasilitas kesehatan di Beirut. Pemerintah bersama UNIFIL masih menyelidiki penyebab pasti melalui investigasi.
Namun demikian, pemerintah menegaskan semua pihak yang terlibat dalam konflik harus tetap patuh dan menghormati humaniter internasional serta menjamin keamanan personel penjaga perdamaian.
Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan mendukung stabilitas kawasan melalui partisipasi dalam misi perdamaian PBB,”
ucap Rico.



