Sutradara Film Pesta Babi, Dandhy Laksono buka suara terkait pernyataan yang dilontarkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak mengenai sumber pendanaan film dokumenter Pesta Babi. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan Instagram @idbaruid.
Dalam keterangannya, Dandhy menegaskan bahwa sumber pendanaan film tersebut berasal dari kolektif berbagai pihak yang terlibat dalam produksi. Ia juga menyebut seluruh tim bekerja tanpa bayaran.
Teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator. Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini,”
kata Dandhy.
Diungkapkannya, dukungan yang diberikan tidak selalu berbentuk uang, melainkan juga alat produksi, tenaga, hingga fasilitas transportasi.
Dandhy menjelaskan, bahwa dirinya, Cypri Dale, produser, videografer, hingga director of photography tidak menerima honor selama proses produksi berlangsung.
Kami semua yang bekerja di situ gak ada yang dibayar,”
ungkapnya.
Dandhy menuturkan, bahwa semua proses produksi film dilakukan dengan semangat gotong royong dan kolaborasi antarlembaga maupun individu yang terlibat.
Jadi kami semua benar-benar mengerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan,”
pungkasnya.
Dalam pernyataannya, Dandhy juga menyinggung soal pentingnya transparansi sumber pendanaan dalam karya jurnalistik maupun dokumenter.
Di semua karya jurnalistik yang paling penting adalah mendeklarasi dari mana sumber beritanya, termasuk sumber pendanaan,”
ujar Dandhy.
Menurut dia, keterbukaan soal pendanaan penting agar publik dapat menilai apakah sebuah karya dibuat secara independen atau tidak.
Dari sana publik bisa menilai apakah ini karya yang independen atau tidak,”
ujarnya.
Namun di sisi lain, Dandhy juga menyoroti bahwa pertanyaan soal sumber dana sering kali lebih diarahkan kepada inisiatif sipil dibanding pendanaan politik atau promosi jabatan pejabat publik. Ia bahkan menyinggung soal sumber dana politik saat pemilu hingga promosi jabatan pejabat.
Orang justru lebih kurios dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini daripada, dari mana sih duit capres untuk pemilu, dari mana sih duit parpol buat bagi-bagi sembako bisa bikin konser gede, darimana sih duit jendral-jendral dan tentara ketika dia mau naik jabatan,”
katanya.
Dandhy menilai, sistem gotong royong yang digunakan dalam produksi film, justru membuat proses pengerjaannya terasa lebih semangat dan idealisme.
Kami percaya usaha ini justru akan lebih membuat filmnya passionate,”
tutupnya.
Diketahui, Film Pesta Babi sendiri merupakan dokumenter garapan Cypri Dale dan Dandhy Laksono yang mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan tanah leluhur mereka di tengah proyek besar yang diklaim sebagai bagian dari ketahanan pangan dan transisi energi.




