Sejumlah pedagang mengeluhkan kenaikan harga plastik yang drastis. Kondisi ini terjadi karena bahan baku nyaris lenyap akibat perang di Timur Tengah, yang menyebabkan harga minyak dunia melambung tinggi.
Hasan, pedagang plastik di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan mengatakan bahwa dagangannya sudah mulai sepi karena harga plastik hingga styrofoam seluruhnya mengalami kenaikan.
Ia mengatakan, biasanya dengan modal Rp5 juta sudah mendapat lima hingga enam barang. Namun, karena kenaikan ini dia hanya bisa mendapat tiga barang.
Berkurang (pembeli). Sekarang kita beli tiga barang aja udah Rp5 juta, plastik satu bal kantong dua bal udah Rp5 juta. Biasanya udah dapet lima atau enggak enam, sekarang cuman dapat tiga,”
ujarnya saat ditemui owrite di lokasi Selasa, 31 Maret 2026.
Dia mengatakan, kenaikan ini terjadi dua pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Kantong plastik merah hingga putih naik rata-rata Rp6.000 hingga Rp10.000 per kemasan. Untuk kenaikan terbesar, ada di angka Rp20.000.
Kantong-kantong naik per Rp10.000, ada yang naik Rp6.000. Kalau yang paling gede aja naiknya Rp20 ribu lebih yang ukuran 50, dari harga Rp33.000 sekarang Rp58.000,”
jelasnya.
Hasan menuturkan, untuk harga kantong plastik hitam tidak mengalami kenaikan signifikan. Tetapi, untuk gelas plastik naik Rp4.000 menjadi Rp18.000.
Kalau kantong plastik yang hitam nggak terlalu banyak naiknya, paling banyak yang merah, putih, bening, gelas. Gelas-gelas dari Rp14.000 sekarang Rp18.000 isinya tetep sama 50,”
katanya.
Ia mengungkap, beberapa jenis barang yang dijualnya mengalami kelangkaan seperti thinwall bulat hingga kotak. Menurutnya, jika barang tersedia harga tidak masuk akal.
Dia harganya naik, barangnya susah dari habis lebaran udah dua kali pengiriman tuh, itu aja saya nggak dapet barang. Itu aja (thinwall) saya cuman dapat sekali pengiriman doang. Harga nggak masuk akal, sekarang dari Rp15.000 ke Rp18.000, paling parah kotak-kotak thinwall dari Rp21.000 ke Rp30.000 ribu,”
ujarnya.
Pedagang Tahan Harga Jual Meski Berat

Sementara itu, Komar pedagang es teh di pinggir jalan sekitaran kawasan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan mengeluhkan harga gelas plastik yang naik. Ia harus mengeluarkan kocek Rp17.000 per pack untuk mendapatkan gelas plastik.
Iya harga plastik mahal, lumayan (naiknya). Baru beli gelas harganya Rp17.000, sebelumnya Rp13.000,”
katanya.
Es teh yang dijualnya seharga Rp5.000 per gelas. Dia sampai saat ini masih menahan harga jual tetap seperti biasanya, hingga sampai batas maksimal beban kenaikan dapat ditanggung.
Nggak papa, kalau udah nggak ketolong baru dipertimbangan,”
katanya.
Di samping itu, Kamiri penjual gorengan di kawasan Jagakarsa juga mengatakan belum akan menaikkan jualannya, meski harga plastik sudah naik. Gorengan seharga empat lima ribu tetap tidak akan berubah.
Naik harga plastik, tadinya Rp5.000 sekarang Rp5.500. Tadinya Rp8.000-Rp7.000 agak tebelan sekarang Rp9.500. Nggak naikin harga (gorengan),”
tuturnya.
Ketidakpastian Pasokan Bahan Baku
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan ketidakpastian pasokan bahan baku saat ini membuat industri petrokimia dalam kondisi survival mode alias bertahan dengan kondisi stok tersisa.
Jadi sebenarnya karena ketidakpastian pasokan bahan baku, sehingga kita juga sekarang dalam kondisi survival mood, artinya kita bertahan terhadap kondisi bahan baku yang kita punya. Dan ini tidak hanya Indonesia, seluruh dunia sekarang,”
ujar Fajar saat dihubungi owrite.
Fajar menuturkan, kini industri dalam negeri menghadapi tekanan berupa kelangkaan bahan baku. Sebab, komoditas nafta yang merupakan bahan baku industri petrokimia tidak bisa keluar akibat penutupan Selat Hormuz.
Pertama itu (tidak ada pasokan), kedua kalaupun itu ada barangnya itu kapan siap untuk diproduksinya. Kemudian yang ketiga juga, sekarang kan karena perang kalau minyak itu kan 20 persen dari Timur Tengah lewat Selat Hormuz, kemudian kalau untuk bahan baku nafta itu kan 70 persen dari Serat Hormuz,”
jelasnya.


