Matcha tidak hanya menjadi minuman hijau yang menarik perhatian di media sosial, kini matcha telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup baru bagi Gen Z.
Meningkatnya popularitas matcha di kalangan Gen Z bukan tanpa alasan. Dibalik warna hijau nya yang khas dan penampilannya yang menarik, matcha juga memberikan beragam manfaat yang selaras dengan gaya hidup generasi saat ini.
Dikutip dari website matchaful.com, asal-usul matcha bermula dari Dinasti Tang di Tiongkok (abad ke-7 hingga 10), di mana daun teh dikukus, dipanggang, dihaluskan, lalu dicampur air dan garam menjadi balok untuk memudahkan transportasi dan perdagangan.
Kemudian pada 1191, Dinasti Song (abad 10-13) mempopulerkan metode ini lebih lanjut. Biksu Zen Jepang Eisai membawa biji teh berkualitas tinggi dari Tiongkok ke Jepang, menanamnya di halaman kuil Kyoto saat masa Shogun Kamakura. Saat itu, matcha diproduksi terbatas sebagai simbol kemewahan elit.
Tak lama kemudian, penganut Buddha Zen mengembangkan tencha dengan menaungi tanaman teh hijau, yang memaksimalkan manfaat kesehatannya.
Matcha telah menjadi fenomena internasional dan mengalami lonjakan popularitas yang tinggi di kalangan masyarakat umum dalam beberapa tahun terakhir.
Selain warna hijaunya yang cerah dan simbolis, matcha juga menjadi simbol gaya hidup sehat serta elemen estetika yang menarik perhatian di dunia digital.
Popularitasnya meningkat secara signifikan khususnya di kalangan Generasi Z. Terdapat beberapa faktor utama yang membuat matcha sangat dicintai oleh generasi ini.
Pertama, manfaat kesehatan yang jelas dan mudah dirasakan. Gen Z yang tumbuh di masa pandemi dan memiliki kesadaran kesehatan pasca-COVID memandang matcha sebagai superfood alami.
Mengandung L-theanine dan kafein, matcha memberikan dorongan energi yang stabil tanpa efek samping seperti yang sering terjadi dengan kopi, serta meningkatkan konsentrasi saat belajar atau bekerja.
Bagi mereka yang sering merasa kelelahan akibat multitasking digital, matcha menawarkan keseimbangan antara stimulasi dan relaksasi.
Kedua, daya tarik visual dan viral di media sosial. Gen Z merupakan generasi visual pertama yang dilahirkan dengan smartphone, mereka hidup untuk konten yang dapat diunggah ke Instagram.
Tren ini mulai booming setelah dipicu oleh sejumlah influencer yang mengunggah konten di media sosial.
Popularitasnya kemudian menyebar hingga ke Indonesia, ditandai dengan munculnya berbagai kafe yang menyajikan menu matcha. Hal ini membuat siapa pun yang melihatnya terdorong untuk ikut mencoba.
Ketiga, Kesesuaian dengan nilai Gen Z juga jadi alasan kenapa matcha makin populer. Generasi ini cenderung memilih produk yang lebih ramah lingkungan dan sehat.
Matcha yang berasal dari teh organik Jepang dianggap cocok dengan gaya hidup clean eating karena rendah gula dan terasa lebih “aman” dikonsumsi.
Di Indonesia sendiri, matcha juga mulai jadi alternatif selain kopi. Buat yang ingin tetap ngopi santai tapi mengurangi kafein atau gula berlebih, matcha jadi pilihan yang pas dan tetap kekinian.
Fenomena matcha di kalangan Gen z bukan sekedar tren sesaat yang viral di media sosial. Lebih dari itu, matcha telah menjelma menjadi representasi gaya hidup baru.
Dari sejarah panjangnya hingga popularitasnya saat ini, matcha menunjukkan bagaimana sebuah produk tradisional dapat beradaptasi dengan kebutuhan generasi modern.
Dengan berbagai manfaat yang ditawarkan serta kesesuaiannya dengan nilai-nilai gen z , tidak heran jika matcha terus diminati dan berpotensi bertahan sebagai bagian dari keseharian anak muda.
Laporan dibuat oleh:
Hilwa Urwatul Watsqaa
