Ditengah maraknya jajanan modern, makanan satu ini hadir sebagai salah satu kuliner tradisional khas Banten yang tetap bertahan dengan rasa autentiknya.
Gipang merupakan salah satu makanan khas Banten yang banyak dijual sebagai oleh-oleh. Rasanya yang manis, renyah, dan sedikit lengket karena terbuat dari ketan yang dicampur dengan air gula.
Meskipun bahan-bahannya sederhana, kue ini sangat digemari karena keberadaannya yang hampir langka.
Bahan utama untuk membuat Kue ini adalah beras ketan putih atau ketan merah yang dikukus. Setelah dikukus, ketan di dinginkan dan dijemur hingga kering.
Kemudian ketan ini digoreng dan dicampur dengan air gula sehingga tekstur nya sedikit lengket saat disantap.
Menariknya, kue ini tidak menggunakan bahan pengawet dalam proses pembuatannya. Sehingga Gipang bisa bertahan lama karena penggunaan gula yang dapat mengawetkan secara alami.
Itulah mengapa kue ini menjadi sajian wajib ketika perayaan Idul Fitri hingga Idul Adha.
Sayangnya, jumlah penjual yang menawarkan kue tradisional khas Banten ini menurun. Ditambah lagi cara pembuatan nya yang masih tradisional.
Berdasarkan Jurnal Studi Sejarah dan Pengajarannya Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, gipang pada awalnya dikembangkan sebagai solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan energi para petani selama musim panen yang panjang.
Karakteristiknya yang kering dan renyah membuat makanan ini dapat disimpan dalam waktu lama tanpa mudah rusak.
Selain itu, gipang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga mampu menjadi sumber energi yang cukup untuk menunjang aktivitas fisik.
Bentuknya yang kecil, ringan, dan mudah dibawa juga menjadikannya praktis sebagai bekal di ladang.
Tak hanya itu, bahan bakunya yang sederhana dan mudah didapat turut menjadikan gipang sebagai pilihan makanan yang ekonomis bagi masyarakat pada masa itu.
(Foto: pesona nusantara)
