Anggota Majelis Nasional Vietnam mengusulkan percepatan pengesahan resolusi terkait pengurangan pajak dan bea cukai bahan bakar guna menjaga stabilitas energi di tengah gejolak global.
Dilansir dari baotintuc.vn dalam sidang pada Kamis 10 April 2026, Parlemen Vietnam membahas evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan sosial-ekonomi, anggaran negara, serta isu strategis seperti keamanan energi, cadangan minyak nasional, dan kebijakan pajak atas bensin, solar, serta bahan bakar penerbangan.
Mayoritas delegasi menyatakan persetujuannya terkait rancangan resolusi tersebut, dan menilai langkah ini sebagai kebijakan tepat waktu untuk merespons dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan energi domestik.
Perwakilan Hai Phong, Le Manh Hung menyebut bahwa, Vietnam terkena dampak yang cukup signifikan terhadap krisis energi global.
Kebutuhan minyak domestik mencapai 750 juta meter kubik per bulan. Pasokan dalam negeri hanya mampu memenuhi 70 persen kebutuhan akan minyak, sementara 30 persen sisanya masih bergantung pada impor.
Pemerintah Vietnam memprioritaskan keamanan energi melalui tiga strategi utama, yaitu memastikan pasokan cukup, mencegah gangguan saat krisis, dan menjaga harga tetap terjangkau.
Selain itu, sejumlah langkah telah dilakukan pemerintah Vietnam, termasuk meningkatkan kapasitas kilang, diversifikasi sumber impor di luar ASEAN, serta penguatan sistem distribusi bahan bakar di seluruh wilayah.
Pemerintah juga telah menggunakan sekitar 5,6 triliun Dong dari Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar untuk menekan harga ritel dan mengendalikan inflasi.
Cadangan energi nasional pun meningkat dari sekitar 15 hari menjadi 26 hari, sementara harga bahan bakar domestik tetap di bawah rata-rata global.
Dalam jangka panjang, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam menargetkan penurunan ketergantungan impor energi dari 43,9 persen menjadi sekitar 30 persen pada 2030.
Sementara itu, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI), Ho Sy Hung mengatakan, gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah telah meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor. Industri tekstil mencatat kenaikan biaya hingga 15–20 persen, sementara sektor konstruksi naik sekitar 3–5 persen.
Kondisi ini juga berdampak pada sektor logistik dan investasi. Sejumlah proyek tertunda akibat ketidakpastian harga, sementara ekspor Vietnam ke Timur Tengah mengalami penurunan.
Direktur Utama Vietnam Airlines, Le Hong Ha mengungkapkan, harga bahan bakar jet sempat melonjak hampir tiga kali lipat dari rencana awal. Harga Jet A1 tercatat 229 dolar AS per barel sebelum 7 April, turun menjadi 145 dolar AS pada 8 April, lalu kembali naik ke 216 dolar AS pada 9 April.
Para delegasi menilai fluktuasi tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh faktor geopolitik terhadap pasar energi global. Karena itu, pengesahan resolusi pengurangan pajak dan bea cukai dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Rancangan kebijakan yang diajukan pemerintah mencakup penghapusan pajak lingkungan menjadi 0, pembebasan PPN untuk bahan bakar, serta penetapan tarif bea cukai khusus sebesar 0 persen. Kebijakan ini diusulkan berlaku mulai 16 April hingga 30 Juni, dengan opsi perpanjangan sesuai kondisi pasar global.
Laporan dibuat oleh:
Ani Ratnasari


