Prancis telah melarang Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memasuki wilayah Prancis, karena video kekerasan terhadap para aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF), yang diunggah oleh menteri Israel melalui akun X miliknya.
Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Noel Barrot, bahwa tindakan Ben-Gbir sebagai tindakan yang tidak dapat diterima terhadap para aktivis di atas kapal yang menuju Gaza.
Barrot menambahkan, pada Sabtu, 23 Mei 2026, bahwa langkah tersebut menyusul insiden yang melibatkan warga negara Prancis dan Eropa yang berpartisipasi dalam Armada Global Sumud.
Prancis tidak dapat mentolerir warga negara Prancis yang diancam, diintimidasi, atau diperlakukan secara brutal,”
kata Barrot, dikutip dari Middle East Monitor, Minggu, 24 Mei 2026.
Saya mencatat bahwa tindakan-tindakan ini telah dikutuk oleh sejumlah besar tokoh pemerintah dan politik Israel. Tindakan-tindakan ini mengikuti daftar panjang pernyataan dan tindakan yang mengejutkan, hasutan untuk kebencian dan kekerasan terhadap Palestina,”
ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa Uni Eropa harus menjatuhkan sanksi kepada Itamar Ben-Gvir. Langkah ini menyusul beredarnya rekaman yang tampaknya menunjukkan Ben-Gvir, mitra koalisi utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang berjalan di antara para aktivis yang ditahan. Para aktivis terlihat berlutut dalam formasi rapat dengan tangan terikat di belakang punggung.
Dalam rekaman tersebut, Ben-Gvir juga tampak mengibarkan bendera Israel dan mengejek para tahanan.
Desak Jatuhkan Sanksi
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani meminta agar kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, memasukkan kemungkinan sanksi terhadap Ben-Gvir ke dalam agenda pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa berikutnya.
Demikian pula Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin, menulis surat kepada Presiden Dewan Eropa Antonio Costa meminta diskusi formal pada KTT Uni Eropa mendatang tentang perlakuan Israel terhadap warga negara Uni Eropa di atas armada tersebut.
Armada tersebut diketahui membawa 428 orang dari 44 negara, yang berangkat dari Marmaris, Turki, dalam upaya untuk menembus blokade Israel di Jalur Gaza, yang telah berlangsung sejak 2007.


