Kasus hipotermia pada balita kembali menyita perhatian publik setelah seorang bayi berusia 1,5 tahun mengalami penurunan suhu tubuh drastis saat mengikuti pendakian di Gunung Ungaran.
Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba diduga menjadi pemicu utama kondisi tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aktivitas luar ruang, terutama di kawasan pegunungan, memiliki risiko tinggi bagi anak-anak. Tubuh anak yang masih rentan membuat mereka lebih mudah kehilangan panas dan cairan dibandingkan orang dewasa.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hipotermia pada anak tidak boleh dianggap sepele. Penanganan yang cepat dan tepat sangat menentukan kondisi anak agar tidak semakin memburuk.
Berikut beberapa tips dan trik yang bisa dilakukan orang tua saat menghadapi kondisi tersebut:
- Segera Lepas Pakaian Basah
Salah satu langkah pertama yang perlu dilakukan saat anak mengalami hipotermia adalah melepas pakaian yang basah. Pakaian yang lembab dapat mempercepat hilangnya panas tubuh, sehingga memperparah kondisi anak. Setelah itu, keringkan tubuh anak menggunakan kain atau handuk yang bersih dan kering.
- Lakukan Kontak Kulit ke Kulit
Metode skin to skin atau kontak langsung antara kulit anak dan orang tua terbukti efektif untuk menghangatkan tubuh anak secara bertahap. Teknik ini serupa dengan metode Kangaroo Mother Care (KMC), yang banyak digunakan pada bayi prematur. Suhu tubuh orang dewasa yang stabil dapat membantu menaikkan suhu tubuh anak secara alami.
- Gunakan Penutup Tambahan yang Hangat
Setelah tubuh anak kering dan hangat, segera bungkus dengan kain atau selimut kering. Jika tersedia, gunakan alumunium foil untuk membantu menahan panas tubuh agar tidak kembali hilang.
- Pastikan Anak Tidak Dehidrasi
Selain suhu tubuh, kondisi cairan dalam tubuh anak juga harus diperhatikan. Hipotermia seringkali disertai dehidrasi, terutama jika anak berada di lingkungan dingin dalam waktu lama. Pastikan anak tetap mendapatkan asupan cairan yang cukup.
- Hindari Aktivitas Ekstrim Tanpa Persiapan
Bagi orang tua yang ingin mengenalkan anak pada aktivitas alam, seperti hiking atau mendaki, penting untuk memulai dari tingkat yang ringan. Hindari langsung membawa anak ke gunung dengan medan berat atau cuaca ekstrem. Perhatikan juga akses evakuasi jika terjadi kondisi darurat.
- Perhatikan Usia dan Daya Tahan Anak
Ahli kesehatan anak mengingatkan bahwa balita, terutama di bawah usia tiga tahun, sangat rentan terhadap perubahan suhu. Sistem imun dan daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa, sehingga membutuhkan perlindungan ekstra dalam setiap aktivitas luar ruang.
Menjaga anak tetap aman bukan hanya soal kesiapan fisik, tetapi juga kewaspadaan orang tua dalam membaca situasi. Dengan memahami langkah penanganan hipotermia sejak dini, risiko kondisi darurat dapat diminimalkan.
Hipotermia pada anak merupakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Orang tua perlu lebih waspada terhadap perubahan suhu lingkungan serta kondisi fisik anak, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.
Dengan pengetahuan yang cukup dan langkah pencegahan yang matang, risiko hipotermia dapat diminimalkan sehingga anak tetap aman dan nyaman dalam setiap aktivitas.


