Wacana mengenai potensi penggabungan antara Partai Gerindra dan Partai NasDem sempat mencuat dan menarik perhatian publik.
Isu tersebut bahkan disinggung oleh Ketua Komisi XIII DPR RI sekaligus politikus NasDem, Willy Aditya, dalam rapat bersama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila pada Senin, 13 April 2026.
Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Kunto Adi menilai bahwa jika merger benar terjadi, hal ini bisa menjadi bagian dari upaya penyederhanaan sistem kepartaian oleh Presiden Prabowo Subianto.
Diketahui, Partai Gerindra saat ini menjadi salah satu partai yang berkuasa. Menjelang Pemilihan Umum 2029, wacana merger dinilai dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat basis politik.
Kalau menurut saya, yang pertama adalah terkait Prabowo. Sebagai pihak yang sedang berkuasa, tampaknya ingin melakukan penyederhanaan sistem kepartaian di Indonesia,”
ujar Kunto Adi, Rabu, 15 April 2026.
Belajar dari Era Sebelumnya
Kunto juga menyinggung kebijakan pada masa pemerintahan sebelumnya saat PDI Perjuangan menjadi partai dominan, dengan Joko Widodo sebagai Presiden.
Saat itu, ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dinaikkan hingga sekitar 4 persen untuk DPR, sehingga membuat syarat masuk parlemen menjadi lebih ketat.
Harapannya, jumlah partai akan menyusut dengan sendirinya. Dengan partai yang lebih sedikit, akan lebih mudah bagi partai penguasa untuk melakukan lobi dan membangun koalisi,”
jelasnya.
Meski demikian, Kunto juga melihat adanya tantangan dalam wacana merger ini, terutama setelah keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuat sistem politik lebih terbuka.
Untuk pemilu legislatif, ambang batas diserahkan kepada undang-undang, sementara presidential threshold kini menjadi 0 persen. Hal ini memungkinkan lebih banyak pihak untuk membentuk partai dan ikut dalam kontestasi politik.
Momentum Kekuasaan Jadi Kunci
Dalam situasi tersebut, Kunto menilai Presiden Prabowo Subianto berpotensi memanfaatkan momentum kekuasaan untuk mengajak partai-partai besar bergabung.
Secara hitung-hitungan kursi juga masuk akal, apalagi ada dinamika seperti kader NasDem yang sebelumnya sempat berpindah ke PSI. Ini bisa menjadi peluang bagi Gerindra untuk melakukan pendekatan politik,”
pungkasnya.



