Perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat kembali tegang dan memasuki fase kritis. Pemerintah Iran menegaskan belum ada jadwal baru untuk melanjutkan perundingan dengan Washington, di tengah situasi Selat Hormuz yang kembali ditutup.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menyatakan bahwa dialog tidak akan berlangsung sebelum kedua negara mencapai kesepakatan dasar atau framework yang sama.
Perundingan tidak mungkin dilakukan sampai ada kerangka bersama yang disepakati,”
ujar Khatibzadeh seperti dikutip dari Al Jazeera, Minggu, 19 April 2026.
Ia menilai posisi Amerika Serikat saat ini masih terlalu “maksimalis”, sehingga belum memungkinkan kedua pihak duduk bersama di meja perundingan. Iran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus tetap menjaga hak-haknya sesuai hukum internasional.
Kondisi ini semakin memperburuk situasi di kawasan, terutama setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Sempat Dibuka Sebentar Sebelum AS Langgar Perjanjian
Sebelumnya, Iran sempat membuka jalur tersebut secara terbatas, memicu pergerakan kapal tanker untuk pertama kalinya sejak konflik memanas. Namun, keputusan itu tidak bertahan lama. Teheran kembali menutup akses pelayaran dan bahkan mengeluarkan peringatan keras kepada kapal-kapal yang mencoba melintas.
Penutupan selat ini disebut sebagai respons atas sikap Amerika Serikat (AS) yang dinilai tidak memenuhi komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata, sekaligus memperketat tekanan melalui blokade terhadap pelabuhan Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sebagian besar pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi langsung mengguncang harga energi global serta memperbesar risiko krisis ekonomi di berbagai negara.
Di tengah kebuntuan diplomasi dan eskalasi militer, peluang tercapainya perdamaian dalam waktu dekat semakin tipis. Ketidakpastian pun kian membayangi, seiring kedua pihak masih saling mengunci posisi tanpa kompromi.

