Dua personel angkatan udara Israel ditangkap atas tuduhan mata-mata. Penangkapan ini menggarisbawahi upaya Iran untuk menembus militer Israel dengan merekrut agen dari dalam.
Selama satu setengah tahun terakhir, polisi Israel, bekerja sama dengan Shin Bet (Badan Keamanan Israel), telah menyelidiki lebih dari 20 kasus yang melibatkan sekitar 40 hingga 50 tersangka terkait spionase. Sebagian besar masih ditahan, meskipun para penyelidik meyakini bahwa tersangka lainnya masih buron.
Kapten Sefi Berger dari Unit Kejahatan Internasional dan Besar Lahav Kepolisian Israel, yang menyelidiki kasus spionase Iran, mengatakan bahwa Teheran mencari informasi intelijen yang dapat membantu perencanaan serangan, bersama dengan informasi tentang individu-individu penting dan target sensitif lainnya.
Melansir dari Fox News, Jumat, 8 Mei 2026, pembayaran menjadi mata-mata Iran pun sangat bervariasi. Satu jaringan yang terdiri dari tujuh tersangka dilaporkan menerima sekitar US$300 ribu atau Rp5,2 miliar, sementara seorang anggota cadangan Iron Dome diduga dibayar US$1.000 atau setara dengan Rp17,3 juta, dan dalam beberapa kasus, bayaran untuk jasa mata-mata dapat kurang dari itu.
Orang mungkin berpikir mereka akan menjadi kaya, tetapi uang itu tidak akan mengubah hidup mereka,”
kata Berger, dikutip dari Fox News, Jumat, 8 Mei 2026.
Dalam satu kasus tahun lalu yang melibatkan dua tentara, salah satunya hanya menerima US$21 dan telah dipenjara selama satu setengah tahun,”
tambahnya.
Iran Diduga Rekrut Agen Lewat WhatsApp dan Situs Porno
Taktik perekrutan Iran juga mencakup penyusupan ke grup WhatsApp dan Facebook yang digunakan oleh warga Israel yang mencari pekerjaan lepas, serta situs web pornografi, di mana agen-agen tersebut diduga menggunakan materi yang dapat merusak reputasi untuk memeras individu agar bekerja sama.
Saat merekrut seseorang, sebuah hubungan dapat berkembang antara penanggung jawab dan mata-mata. Terkadang (Iran) mencari sosok ayah atau teman, seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi,”
kata Berger.
Mantan agen Shin Bet, Gonen Ben Itzhak, yang bertahun-tahun merekrut informan di dalam masyarakat Palestina, mengatakan bahwa masalah ini sangat serius, dan menyatakan bahwa ia belum pernah melihat begitu banyak upaya dan beberapa kasus yang berhasil dalam kegiatan mata-mata terhadap Israel.
Pertanyaan terpentingnya adalah siapa yang bisa menjadi rekrutan yang baik. Kami tidak memiliki jawaban yang jelas. Ada indikator tertentu yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin lebih rentan. Iran menggunakan media sosial, sesuatu yang tidak kami miliki dengan cara yang sama dan itu adalah alat yang ampuh untuk mengidentifikasi potensi motif,”
jelasnya.
Tentara dan Warga Sipil Diduga Bocorkan Data Sensitif
Ben Itzhak mengatakan bahwa ia berupaya merekrut sebanyak mungkin kandidat yang layak sambil menghindari individu yang cenderung menimbulkan kecurigaan, seperti penjahat yang dikenal. Ia menggambarkan proses perekrutan juga dilakukan secara bertahap dan seringkali tidak pasti.
Awalnya, mereka harus setuju untuk bertemu secara rahasia. Terkadang mereka datang tetapi tidak mau berbagi informasi. Saya akan mulai dengan pertanyaan sederhana, siapa pemimpin Hamas di desa mereka,”
bebernya.
Terkadang dibutuhkan waktu. Beberapa menolak untuk bekerja sama, beberapa bahkan mungkin bertindak sebagai agen ganda. Dalam banyak kasus, mereka dilatih untuk mengumpulkan informasi tanpa terbongkar. Ini adalah sebuah proses,”
tambah Ben Itzhak.
Selain itu, pada Jumat, dakwaan diajukan terhadap seorang warga sipil Israel dan tiga tentara yang ditangkap pada Maret lalu, karena dicurigai bekerja untuk intelijen Iran dan melakukan misi terkait keamanan di bawah arahan Teheran sebelum bergabung dengan IDF.
Sebagai bagian dari operasi yang diduga, para terdakwa mendokumentasikan dan mengirimkan foto dan video lokasi kepada penanggung jawab mereka, termasuk stasiun kereta api, pusat perbelanjaan, dan kamera keamanan. Mereka juga pada suatu waktu diperintahkan untuk membeli senjata.
Lebih jauh, mereka diduga mentransfer dokumen dari Sekolah Teknik Angkatan Udara, tempat beberapa tersangka pernah belajar.
Pada Maret lalu, Ami Gaydarov, warga Haifa berusia 22 tahun pun, ditangkap karena dicurigai memproduksi bahan peledak yang ditujukan untuk menargetkan seorang tokoh senior Israel atas arahan seorang agen Iran.
Sebagai informasi, berdasarkan hukum Israel, berhubungan dengan agen asing dapat dikenai hukuman hingga 15 tahun penjara. Memberikan informasi intelijen dapat mengakibatkan hukuman penjara lebih dari 10 tahun, sementara membantu musuh selama masa perang dapat dikenai hukuman minimal penjara seumur hidup atau hukuman mati.


