Berdasarkan laporan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pada April 2026, menunjukkan bahwa enam bulan pasca tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO) milik PT Vale Indonesia di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), membuat dampak ekologis dan sosial masih dirasakan masyarakat.
Zulfaningsih HS, Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulsel, menyampaikan bahwa data yang dipaparkan bukan berasal dari klaim perusahaan, melainkan hasil monitoring langsung di lapangan pada Februari 2026.
Temuan kami menunjukkan alur tumpahan minyak mencapai 18,777 kilometer. Hampir 19 kilometer minyak mengalir dari hulu Sungai Koromusilu di Desa Lioka, melewati enam desa hingga ke Danau Towuti. Ini menunjukkan skala pencemaran jauh lebih luas dari yang selama ini disampaikan,”
kata Zulfaningsih dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 9 Mei 2026.
Vale Tak Sepenuhnya Bertanggung Jawab
Sementara itu, Muhammad Al Amien, Direktur WALHI Sulawesi Selatan, menegaskan bahwa hingga saat ini PT Vale belum sepenuhnya memenuhi tanggung jawabnya kepada publik.
Tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini. Tanpa akuntabilitas yang jelas, tidak ada jaminan kejadian serupa tidak akan terulang,”
tegasnya.
WALHI juga menyoroti masih adanya residu minyak di beberapa titik, minimnya transparansi perbaikan pipa, serta penggunaan MFO sebagai bahan bakar industri yang berisiko tinggi terhadap lingkungan.
Karena itu, PT Vale juga harus segera menghentikan penggunaan MFO dalam operasionalnya karena berisiko tinggi terhadap lingkungan,”
tegasnya.
Tuntutan Walhi
Berdasarkan temuan tersebut, WALHI Sulawesi Selatan menyampaikan tuntutan:
- Pemulihan lingkungan secara nyata, terverifikasi, dan terbuka kepada publik.
- Pengumuman pihak yang bertanggung jawab atas tumpahan minyak, termasuk jajaran pimpinan perusahaan.
- Transparansi penuh terkait perbaikan pipa dan jaminan pencegahan kebocoran di masa depan.
- Penyelesaian seluruh ganti rugi warga tanpa pengecualian, serta komitmen untuk mengurangi hingga menghentikan penggunaan MFO dalam operasional.
WALHI menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar insiden teknis, tetapi menyangkut hak masyarakat atas lingkungan yang sehat. Pemantauan akan terus dilakukan hingga pemulihan benar-benar terwujud dan keadilan bagi warga terpenuhi.
Jika mengacu pada situs perusahaan, PT Vale mengklaim bahwa pihaknya berkomitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati dengan komitmen keberlanjutan.
Keanekaragaman hayati termasuk dalam lima komitmen kami terkait lingkungan bersamaan dengan agenda rendah karbon, mengurangi beban landfil, menurunkan intensitas konsumsi air, dan forestrasi lintas batas,”
menurut situs resmi perusahaan.
PT Vale juga mengaku berkomitmen untuk mengelola dampak negatif dengan melakukan konservasi keanekaragaman hayati, reklamasi progresif, dan rehabilitasi pascatambang, sesuai peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku.





