Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk mengembangkan tabung berkapasitas 3 kilogram khusus untuk Compressed Natural Gas (CNG).
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan saat ini pemerintah sedang menganalisis berbagai aspek dalam pengembangan tabung gas CNG 3 kilogram dan melibatkan Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian.
“Badan SNI dan Kementerian Ketenagakerjaan yang menerbitkan standar. Kami sedang konsolidasikan semua agar aspek ini bisa kami tangani,”
kata Laode di kantor Kementerian ESDM, Rabu, 13 Mei 2026.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari rencana pemerintah dalam menyiapkan CNG dalam tabung berkapasitas 3 kilogram untuk mengonversi Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi.
Program konversi bertujuan untuk menekan impor LPG dan memanfaatkan sumber gas alam domestik, dengan harga yang diperkirakan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia lebih murah 30 persen dibandingkan dengan LPG.
Laode menegaskan bahwa penggunaan CNG hanya akan menjadi alternatif. Menurutnya, CNG akan lebih dahulu melalui beberapa tahapan sebelum dipasarkan.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti, artinya sama. Kalau dibilang pengganti itu berarti (peredaran) masif sama besar, (sementara) kalau alternatif ada tahapan-tahapan,”
ujar Laode.
Cuat CNG
Isu penggunaan CNG pertama kali mencuat dari Menteri Bahlil awal Mei 2026. Ia memberikan bocoran mengenai persiapan penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG. Langkah ini diambil untuk menekan impor energi dan meningkatkan efisiensi serta kemandirian energi nasional.
Penggunaan CNG sebenarnya mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nantinya, bahan baku dari gas tersebut berasal dari dalam negeri.
“Untuk (CNG) 3 kilogram Tabungnya masih dilakukan uji coba. Insya Allah 2–3 bulan ini akan dapat hasilnya. Kalau sudah dinyatakan siap, kami akan lakukan konversi,”
ujar Bahlil.


