Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan melihat kasus love scamming yang melibatkan 137 narapidana di Lapas Kelas IIB Kotabumi, Lampung Utara, sangat mengkhawatirkan.
Kejahatan yang modusnya love scamming banyak kejadiannya, nampaknya modus ini juga masuk ke lembaga pemasyarakatan agak mengkhawatirkan,”
ujar Firman kepada owrite.id.
Firman menjelaskan, metode yang dilakukan pelaku baik orang umum maupun narapidana untuk melakukan love scamming umumnya sama, yakni menggunakan keahlian ilmu komunikasi. Tetapi ia menyoroti kebebasan para napi ini dalam menggunakan ponsel di dalam lapas.
Napi ini menggunakan media sosial dan tentu perangkat seluler, nah ini kan sebetulnya tidak boleh kan,”
jelasnya.
Dengan adanya kasus love scamming di lingkungan lembaga pemasyarakatan, Firman melihat adanya pengawasan yang lemah dari pihak kepolisian.
Jadi ada urusannya dengan pengawasan yang lemah, bagaimana kok perangkat seluler ini bisa masuk, nah itu yang perlu dievaluasi, tapi kalau tentang proses terjadinya itu bisa terjadi di manapun,”
jelasnya.
Cara Pelaku Melakukan Love Scamming
Dijelaskan Firman, teori komunikasi untuk membangun relasi ada banyak dan bertahap. Jadi pelaku tidak langsung meminta uang kepada korban, tapi hubungan itu dibangun secara bertahap.
Tanda bahwa relasi itu akan terbentuk, hubungannya maju secara bertahap. Jadi mulai dari kenalan, menyebutkan namanya siapa, masuk ke data-data yang lebih privat, alamatnya dimana, bekerja sebagai apa, kemudian masuk yang lebih dalam, bagaimana hubungan dengan keluarga, punya pacar atau nggak, nah ketika itu berhasil, masuk ke tahap yang semakin dalam. Ini tahap yang disebut sebagai self-disclosure atau saling membuka diri,”
beber Firman.
Firman menambahkan, biasanya para pelaku love scamming ini akan mengulik tentang kisah hidup dari korban dan menceritakan kisah yang sama, seolah mereka senasib. Dari relasi yang awalnya bersifat rasional menjadi emosional. Korban akan merasa nyaman dan bergantung, hingga menjadi ada rasa ingin bertemu.
Nah ini biasanya kemudian masuk ke tahap selanjutnya, kamu bisa nggak bantu pembayaran untuk ini harus saya lakukan, tapi kredit card saya macet atau kartu saya diblokir, nah itu tadi karena emosinya sudah lebih menguasai, dia (korban) mungkin kasian, mungkin simpati nggak pikir panjang. Nah kemudian ketika itu digunakan lebih lanjut ternyata kalau dilihat ke belakang sudah mengalami kerugian yang besar,”
tuturnya.
Selain itu, pelaku akan melakukan love bombing, dengan menunjukkan perhatian kecil rasa cinta atau perhatian kecil yang belum pernah korban dapatkan. Perhatian-perhatian kecil yang tidak diberikan oleh orang lain kemudian diberikan oleh si pelaku love scamming ini, si korban ini menjadi takluk dan nyaman.
Manfaatkan Teknologi Canggih
Menurut Firman, penipuan berbasis digital sudah semakin canggih karena bisa kita menggunakan identitas palsu, menggunakan persona yang anonim. Seperti kasus napi di Kotabumi, mereka menyamar sebagai polisi atau TNI. Sementara banyak korban love scamming ini mengagumi mereka yang berseragam.
Apalagi sekarang ada bantuan deepfake atau Artificial Intelligence (AI), bisa membuat video. Pelaku pakai foto orang lain kemudian membuat audio visual yang bergerak dan dikirim lewat pesan. Atau pelaku membuat video saat melakukan aksi heroik sehingga membuat korban terbuai.
Nah ini jadi celah, jadi pintu masuk yang pertama ketika seseorang mengagumi siapa yang menghubungi dia di tengah kesepiannya,”
tandasnya.




