Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan, dan menempatkannya sebagai salah satu mata uang terlemah di dunia. Pada perdagangan hari ini, tercatat rupiah menembus level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat (AS), atau melemah 0,48 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan rupiah menjadi salah satu nilai tukar terlemah di dunia, setelah rupee India dan peso Argentina.
Dari data seminggu lalu, India rupee masih terlemah tahun ini. Kalau tidak salah rupiah nomor tiga, setelah rupee India dan peso Argentina,”
kata Lukman saat dihubungi Owrite Jumat, 15 Mei 2026.
Terlemah Kedua di Asia
Sementara itu, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan di Asia rupiah menempati posisi kedua sebagai mata uang terlemah, setelah rupee India. Sepanjang tahun 2026 atau year to date (ytd) rupee India melemah 6 persen, rupiah 4,8 persen, dan peso Filipina melemah 4,1 persen.
Rupiah dan juga India rupee merupakan dua mata uang terburuk di pasar forex utama Asia, performa ini dari awal tahun 2026 sampai saat ini,”
ujar Myrdal kepada Owrite.id.
Myrdal menjelaskan, penyebab rupiah dan rupee menjadi mata uang terlemah se-Asia di sepanjang tahun 2026, karena kedua negara ini merupakan negara emerging market yang paling menarik di wilayah Asia.
Pada saat ada kondisi global yang kurang kondusif, investor global pasti melakukan aksi yang namanya risk averse atau menghindari risiko. Sehingga wajar kalau negara utama emerging market di Asia yaitu India dan Indonesia itu menjadi korbannya dari aksi risk averse yang dilakukan oleh investor global,”
jelasnya.

Berikut daftar lima negara dengan mata uang terlemah di Asia hingga 15 Mei 2026:
- Rupee India: melemah 6,01 persen
- Rupiah Indonesia: melemah: 4,8 persen
- Peso Filipina: melemah 4,1 persen
- Won Korea Selatan: melemah 2,9 persen
- Baht Thailand: melemah 2,8 persen
Biang Kerok Rupiah ‘Keok’
Myrdal mengungkapkan, penyebab utama melemahnya rupiah karena investor asing yang melakukan hot money outflow alias aliran modal jangka pendek keluar secara cepat dari pasar keuangan RI. Kemudian juga disebabkan oleh konversi valas yang tidak berjalan lancar.
Kedua kelihatannya ada proses konversi valas yang kurang smooth dari eksportir ke pasar forex domestik. Jadi konversi valasnya itu enggak mulus ya,”
terangnya.
Lalu melemahnya mata uang RI ini juga karena faktor musiman. Hal ini diantaranya kebutuhan pemberian dividen kepada investor global dari perusahaan yang ada di bursa, dan faktor permintaan musim haji.
Kalau yang lain-lainnya seperti permintaan impor yang naik waktu harga minyak tinggi. Ini sebenarnya kalau kita lihat dari data bulan Maret ternyata bisa diantisipasi dengan posisi ekspor yang masih ada kenaikan,”
tuturnya.
Tabel Pergerakan Mata Uang Asia terhadap Dolar AS (USD)
(Data per 12 – 14 Mei 2026)
| Mata Uang | Kode | Kurs per USD (Aproksimasi) | Perubahan Harian (12 Mei) | Akumulasi Pelemahan (YTD 2026) |
|---|---|---|---|---|
| Rupee India | INR | 95,79 | -0,55% | -6,0%+ |
| Won Korea Selatan | KRW | 1.492,9 | -0,82% | -2,29% |
| Rupiah Indonesia | IDR | 17.518 | -0,54% | -3,65% |
| Peso Filipina | PHP | 58,15 | -0,49% | -4,40% |
| Yen Jepang | JPY | 158,40 | -0,24% | Menengah |
| Ringgit Malaysia | MYR | 4,78 | -0,20% | Stabil |
| Baht Thailand | THB | 36,85 | -0,18% | Stabil |
| Dolar Singapura | SGD | 1,36 | -0,16% | Rendah |
| Yuan China | CNY | 7,24 | +0,03% (Menguat) | Terkendali |


