Bacaan doa tahiyat akhir dibaca saat duduk terakhir dalam rukun salat. Doa ini wajib dibaca sebagai bentuk penghormatan, doa, dan pujian kepada Allah SWT serta salam kepada Nabi Muhammad SAW. Jika lupa atau tertinggal dikerjakan, maka hukum salatnya menjadi tidak sah atau harus diulang.
Doa tahiyat akhir sendiri merupakan rangkuman bacaan tasyahud, salawat, dan salam. Doa tersebut diawali dengan at-tahiyatul mubarokatus.
Selain bacaan tahiyat akhir, Syekh Zainudin Al Malibri menjelaskan dalam kitabnya Fathul Muin, menganjurkan untuk membaca doa setelahnya. Berikut ulasannya dilansir dari laman NU Online.
وسن في تشهد أخير دعاء بعد ما ذكر كله، وأما التشهد الأول فيكره فيه الدعاء لبنائه على التخفيف، إلا إن فرغ قبل إمامه فيدعو حينئذ
Artinya:
“Disunahkan pada tasyahud/ tahiyat akhir berdoa setelah membaca doa tahiyat akhir seluruhnya. Sementara pada tasyahud/ tahiyat awal makruh berdoa (setelah selesai membaca bacaan tahiyat) karena tujuannya meringankan (mempercepat), kecuali jika imam belum selesai tasyahud awal. Dalam kondisi tersebut dibolehkan berdoa.” (Syekh Zainuddin Al-Malibri, Fathul Muin, Jakarta, Darul Kutub Islamiyyah, 2009 M, halaman 47).
Dalam kitabnya tersebut bahwa membaca doa setelah tahiyat akhir sangat dianjurkan, sedang setelah tahiyat awal makruh karena tujuannya adalah mempercepat. Namun jika kondisi imam belum selesai tahiyat awal, maka dibolehkan. Hal in menunjukkan betapa mustajabnya waktu berdoa setelah tahiyat akhir.
Adapun menurut Syekh Zainuddin Al-Malibri, doa setelah tahiyat akhir yang paling utama adalah doa matsur dari Nabi Muhammad SAW, dan di antara doanya yaitu sebagai berikut:
أَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
Allâhumma innî a’ûdzubika min adzâbil qabri wa min ‘adzâbin nar, wa min fitnatil mahyâ wal mamât wa min fitnatil masîhid Dajjâl.
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa api neraka, fitnah kehidupan dan kematian, serta berlindung dari fitnah dajal”.
Doa tersebut secara tersurat Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk berdoa dan berlindung dari empat hal sebelum salam yaitu, 1) berlindung dari siksa kubur, 2) berlindung dari siksa neraka, 3) berlindung dari fitnah kehidupan dan kematian, 4) berlindung dari fitnah dajal. Ini menandakan bahwa waktu akhir salat menjadi waktu mustajabnya doa dikabulkan.
Selain itu, doa setelah bacaan tahiyat akhir yang lain juga diriwayatkan oleh Al Bukhari yaitu:
اللَّهمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا كَبِيْرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Allâhumma innî zhalamtu nafsî zhulman katsîran kabîran wa lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, faghfir lî maghfiratan min ‘indika, warhamnî innaka antal ghafûrur rahîm.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, tidak ada yang mengampuni dosa selain engkau. Ampunilah aku dengan ampunan di sisi-Mu dan kasihilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Itulah beberapa doa yang bisa dibaca setelah bacaan tahiyat akhir. Dengan begitu, waktu akhir salat sebelum salam menjadi waktu yang dianjurkan untuk melantunkan doa.


