Kebangkrutan negara bisa terjadi ketika pemerintah gagal membayar utang beserta bunganya saat jatuh tempo.
Kondisi ini akan diumumkan secara resmi oleh pemerintah, tetapi dalam beberapa kasus juga terjadi tanpa deklarasi formal.
Dalam sejarah, kebangkrutan negara bukan hal baru. Hampir separuh negara di Eropa, sekitar 40 persen negara di Afrika, dan 30 persen negara di Asia pernah mengalami gagal bayar utang dalam dua abad terakhir.
Ekuador menjadi negara yang paling sering menyatakan bangkrut dengan total 10 kali gagal bayar. Sementara Brasil, Meksiko, Uruguay, Chili, Kosta Rika, Spanyol, dan Rusia tercatat pernah bangkrut sembilan kali.
Berikut enam negara besar yang mengalami kebangkrutan atau gagal bayar utang dalam beberapa dekade terakhir.
1. Meksiko (1982)
Pada 1982, Meksiko gagal membayar utang negara senilai sekitar USD $80 miliar. Krisis ini dipicu adanya lonjakan utang publik akibat kebijakan ekspansi fiskal besar-besaran saat masa pemerintahan Presiden Luis Echeverría.
Situasi makin memburuk setelah harga minyak dunia jatuh pada akhir 1970-an. Nilai peso terdepresiasi sekitar 50 persen, tetapi pemerintah tetap tidak mampu melunasi kewajiban hutangnya.
Hal ini membawa dampak yang sangat besar. Dalam lima tahun berikutnya, PDB Meksiko turun sekitar 11 persen dan memicu Krisis Utang Amerika Latin yang menyeret banyak negara di kawasan tersebut.
2. Rusia (1998)
Rusia mengalami kebangkrutan pada 1998 dengan total utang sekitar USD $17 miliar. Krisis ini merupakan dampak dari krisis finansial Asia dan anjloknya harga minyak dunia. Saat itu ekonomi Rusia sedang terbebani utang internasional besar dan produktivitas nasional yang terus melemah.
Krisis rubel 1998 membuat pasar saham Rusia kehilangan sekitar 75 persen nilainya, sementara inflasi melonjak hingga 80 persen. Ekonomi Rusia juga mengalami kontraksi sekitar 5,3 persen dan tingkat pengangguran mencapai 13 persen.
3. Argentina (2001)
Argentina menyatakan gagal bayar utang pada 2001 dengan total utang mencapai USD $145 miliar. Krisis terjadi akibat kebijakan mematok nilai peso terhadap dolar AS, utang publik yang terus membengkak, serta korupsi yang merajalela.
Pada puncak krisis, tingkat pengangguran di Argentina mencapai lebih dari 20 persen. Pemerintah akhirnya gagal membayar utang lebih dari USD $100 miliar, yang saat itu menjadi default terbesar dalam sejarah dunia.
4. Islandia (2008)
Islandia mengalami kebangkrutan pada 2008 ketika krisis finansial global menghantam sektor perbankannya. Negara itu memiliki utang sekitar USD $85 miliar, sementara sistem perbankannya menanggung utang setara 10 kali PDB nasional.
Tiga bank terbesar Islandia runtuh hampir bersamaan, menyebabkan ekonomi negara itu masuk ke jurang depresi. Dalam dua tahun berikutnya, ekonomi Islandia menyusut sekitar 10 persen. Meski begitu, Islandia berhasil pulih relatif cepat. Pada 2014, ekonominya bahkan tercatat sekitar 1 persen lebih besar dibanding sebelum krisis 2008.
5. Lebanon (2020)
Krisis Lebanon mulai memuncak pada akhir 2019 setelah pemerintah mengusulkan pajak baru, termasuk biaya bulanan untuk layanan panggilan WhatsApp.
Kebijakan tersebut memicu demonstrasi besar-besaran karena masyarakat sudah lama marah terhadap elite politik dan kondisi ekonomi negara.
Pada Maret 2020, Lebanon gagal membayar utang sebesar USD $90 miliar atau setara 170 persen dari PDB, salah satu rasio utang tertinggi di dunia.
Nilai mata uang Lebanon kemudian anjlok hampir 90 persen. Bank Dunia bahkan menyebut krisis Lebanon sebagai salah satu yang terburuk dalam lebih dari 150 tahun terakhir.
6. Sri Lanka (2022)
Sri Lanka menjadi salah satu contoh terbaru negara yang bangkrut akibat gagal membayar utang luar negeri. Pemerintah Sri Lanka memiliki utang luar negeri USD $51 miliar dolar AS dan mengalami krisis devisa parah.
Akibatnya, negara tersebut kesulitan mengimpor bahan bakar, pangan, dan obat-obatan. Kondisi ini memicu antrean panjang BBM hingga gelombang demonstrasi besar.
Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengakui, negaranya bangkrut dan menyebut krisis ekonomi itu kemungkinan berlangsung cukup panjang.
Pengalaman negara-negara seperti Sri Lanka, Argentina, dan Lebanon menunjukkan bahwa krisis biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berawal dari kombinasi utang yang terus membengkak, kebijakan ekonomi yang tidak tepat, lemahnya kepercayaan publik, hingga tekanan global yang tidak mampu diantisipasi.
Karena itu, menjaga stabilitas fiskal, mengendalikan utang, memperkuat sektor produksi, serta menjaga daya beli masyarakat menjadi hal penting agar Indonesia tidak mengalami krisis serupa di masa depan.


