Industri hiburan China sedang mengalami perubahan besar-besaran, setelah meledaknya drama pendek berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Pada Januari 2026 saja, platform-platform di China meluncurkan lebih dari 14.600 drama pendek hasil produksi AI.
Artinya, setiap hari ada sekitar 470 judul baru yang muncul di berbagai platform streaming dan media sosial.
Drama pendek sendiri merupakan format serial berdurasi singkat, biasanya hanya dua hingga lima menit per episode, yang dibuat khusus untuk pengguna ponsel.
Format ini mirip sinetron versi cepat dengan alur dramatis, konflik intens, dan dibuat agar penonton terus menonton lewat sistem algoritma platform.
Dilansir dari Halo China tech, pada Februari 2026 jumlah drama AI di ekosistem digital China bahkan mencapai 127.800 judul.
Jumlah penontonnya diperkirakan akan menembus 280 juta orang pada tahun ini, naik drastis dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka sekitar 120 juta pengguna.
Biaya Produksi Turun Drastis
Sebelum AI masuk, industri drama pendek di China sebenarnya sudah sangat besar. Namun kehadiran teknologi AI ini membuat biaya produksi turun drastis dan proses pembuatan konten menjadi jauh lebih cepat.
Jika pada 2024 sebuah drama live-action membutuhkan biaya lebih dari 1 juta yuan atau sekitar Rp2,5 miliar, kini serial serupa bisa dibuat dengan AI hanya dengan biaya 50 ribu – 100 ribu yuan saja yakni sekitar Rp169 – Rp259 juta.
Beberapa studio di China bahkan menawarkan paket produksi drama lengkap dengan harga jauh lebih murah. Biaya produksi per menit yang sebelumnya berkisar 3 ribu sampai 5 ribu yuan kini turun menjadi sekitar 500 sampai 1.000 yuan, bahkan ada yang hanya 200 yuan per menit.
Perubahan ini membuat industri drama AI berkembang sangat cepat. Salah satu perusahaan produksi di Hangzhou dilaporkan sudah memiliki sekitar 1.000 karyawan dan menghasilkan pendapatan tahunan hingga 1 miliar yuan dengan laba bersih sekitar 200 hingga 300 juta yuan.
Perusahaan Judian bahkan mampu memproduksi sekitar 100 drama AI fotorealistik setiap bulan ditambah ribuan drama sulih suara AI.
Bahkan ada perusahaan baru, dan sudah memiliki 200 karyawan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, dengan tim yang terdiri dari 10 orang mampu menyelesaikan serial 30 episode dalam waktu 20 hari.
Seorang pendiri startup bahkan mengungkapkan bahwa, seorang operator yang bekerja dengan alat pembuat video terbaru dari buatan ByteDance setiap hari mampu menghasilkan 40 menit konten siap distribusi.
Operator tersebut bahkan mendapatkan penghasilan sekitar 2.000 – 3.000 yuan per bulan, yang setara UMR perkotaan di Tiongkok.
Teknologi AI yang dipakai juga berkembang pesat. Pada Januari 2025, dari 5.000 drama pendek yang dihasilkan 4 diantaranya merupakan hasil AI, tapi pada November meningkat hingga 217.
Ketika ByteDance merilis Seedance 2.0, model terbaru ini memungkinkan untuk membuat adegan aksi fisik yang kompleks, konsistensi karakter di setiap adegan, hingga interaksi banyak tokoh secara realistis.
Aktor Mulai Kehilangan Pekerjaan
Namun di balik ekspansi industri ini, banyak pekerja kreatif mulai terkena dampaknya. Aktor drama pendek di Tiongkok mengaku jumlah pekerjaan mereka turun drastis.
Li Wenhao, aktor yang berbasis di Chongqing mengungkap, sebelumnya ia bisa syuting selama 50 hari tanpa henti kini hanya bekerja 6 hari sepanjang Maret 2026.
Panggilan casting yang dulu datang puluhan kali sehari kini hanya muncul beberapa hari sekali. Dari sekitar sepuluh rumah produksi drama pendek yang ia kenal, sebagian besar kini sudah beralih memakai AI dan berhenti mempekerjakan pemain manusia.
Beberapa studio seperti Chengdu Zhongdu bahkan secara terbuka mengumumkan penghentian produksi live-action dan beralih penuh ke sistem AI.
Bahkan perusahaan Yaoke Media yang merupakan salah satu perusahaan di balik beberapa drama tv Tiongkok yang terkenal, resmi mengontrak pemeran digital hasil AI untuk tampil dalam produksi mereka.
Wajah Orang Dipakai Tanpa Izin
Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan artis. Aktris senior China, Hao Lei bahkan mengatakan AI berpotensi menggantikan 90 persen aktor manusia di masa depan.
Menurutnya, dalam beberapa jenis peran tertentu, AI bahkan mulai dianggap lebih unggul dibanding manusia.
Selain ancaman terhadap pekerjaan, muncul masalah baru yang lebih mengkhawatirkan, yaitu penggunaan wajah orang tanpa izin.
Banyak produser AI diketahui mengambil foto dari media sosial untuk dijadikan referensi karakter dalam drama mereka.
Beberapa korban baru menyadari wajah mereka dipakai setelah drama tersebut viral. Ada yang dijadikan karakter antagonis, tokoh jahat, hingga sosok manipulatif tanpa pernah dimintai izin ataupun diberi kompensasi.
Kasus ini bahkan menimpa sejumlah selebriti besar Tiongkok. Wajah karakter AI dalam beberapa drama disebut sangat mirip dengan aktor terkenal seperti Jackson Yee, Xiao Zhan, hingga Dilraba Dilmurat.
Pemerintah China Buat Regulasi Baru
Pemerintah Tiongkok akhirnya bergerak cepat. Pada April 2026, drama AI mulai diwajibkan masuk sistem registrasi nasional sebelum tayang. Asosiasi penyiaran juga melarang penggunaan wajah dan suara aktor tanpa izin.
Platform seperti Douyin dan Hongguo kemudian melakukan audit besar-besaran terhadap ribuan drama AI.
Ratusan konten akhirnya dikenai sanksi karena melanggar aturan, mulai dari penggunaan wajah tanpa izin hingga pelanggaran hak cipta.
Meski produksinya sangat besar, industri drama AI ternyata masih menghadapi satu masalah besar: kualitas cerita.
Dari lebih dari 127 ribu drama AI yang beredar, hanya sebagian sangat kecil yang berhasil benar-benar viral dan bertahan di ingatan penonton.
Banyak penonton merasa drama AI masih terasa “dingin” dan kurang emosional dibanding drama manusia asli. Secara visual memang realistis, tetapi ekspresi dan kedekatan emosionalnya dianggap belum sepenuhnya natural.
Kini industri drama AI di Tiongkok berkembang seperti mesin produksi konten massal. Fokus utamanya bukan lagi menciptakan karya yang berkesan, melainkan memproduksi sebanyak mungkin video untuk mengejar algoritma, iklan, dan traffic penonton.
Fenomena ini diperkirakan tidak hanya terjadi di Tiongkok. India hingga Hollywood mulai menunjukkan arah serupa.
AI perlahan mengubah industri hiburan global, bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga soal pekerjaan manusia, hak identitas wajah, dan masa depan kreativitas di era digital.


