Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh angka Rp17.657 mulai berdampak pada berbagai sektor, termasuk industri otomotif.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga suku cadang kendaraan bermotor.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pemilik bengkel terpaksa menaikkan harga jual produk dan jasa servis.
Oli kendaraan disebut menjadi salah satu komponen yang mengalami kenaikan harga paling signifikan.
Pemilik bengkel motor di kawasan Depok, Mulyadi, mengungkapkan bahwa lonjakan nilai dolar AS membuat harga spare part motor mengalami kenaikan cukup tajam.
Menurutnya, sebagian besar komponen kendaraan masih bergantung pada produk impor sehingga perubahan kurs dolar langsung memengaruhi harga di pasaran.
Ya bisa dibilang kenaikannya cukup parah untuk harga spare part motor. Karena barang ini semua kan pada impor dari luar ya, jadi ikut kena juga harga naik,”
kata Mulyadi kepada owrite.id.
Oli Motor Mengalami Kenaikan
Ia menjelaskan, rata-rata harga suku cadang mengalami kenaikan sekitar 10 persen dibanding sebelumnya.
Mulyadi menyebut kenaikan harga paling terasa terjadi pada produk oli motor. Harga yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp40 ribu kini mulai menembus Rp50 ribuan.
Semua bisa dibilang rata naiknya dari 10.000 sampai 15.000. Oli motor yang biasa Rp40 ribu, sekarang bisa Rp50 ribuan, yang paling berasa sih kayaknya oli ini ya,”
ucap Mulyadi.
Tapi semua barang-barang lain juga naik, sama seperti yang dibilang tadi semua merata kenaikannya. Ya mudah-mudahan semua bisa balik normal lagi,”
tambah Mulyadi.
Ojek Online Ikut Terdampak
Kenaikan harga spare part dan biaya servis juga dirasakan langsung oleh para pengguna kendaraan harian, termasuk pengemudi ojek online.
Salah satu pelanggan bengkel bernama Heru mengaku biaya perawatan motor kini semakin membebani penghasilannya yang tidak menentu.
Kalau dibilang kena dampak pasti, karena kan kita pakai motor harian. Servis juga bulanan kan ya, jadi kalau spare part naik pasti berasa juga buat kita,”
kata Heru.
Menurutnya, biaya servis rutin kini jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.
Biasanya servis normal Rp 150 ribu sekarang bisa di atas itu. Jadi dengan penghasilan yang gak pasti dampaknya kena banget ke kita,”
tambahnya.
Meningkatnya harga spare part kendaraan menjadi salah satu dampak nyata dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Ketergantungan pada barang impor membuat industri otomotif cukup rentan terhadap perubahan nilai tukar mata uang.
Jika kondisi rupiah belum stabil, bukan tidak mungkin harga komponen kendaraan dan biaya servis akan terus mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.



