Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin menunjukkan pertemuan yang hangat dengan ‘banjirnya’ kesepakatan kerja sama. Hal ini kontras tajam dengan pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Xi, pada 13 Mei lalu.
Jika Trump datang ke Beijing membawa delegasi besar pebisnis AS namun pulang tanpa kesepakatan konkret, Xi dan Putin justru mengunci 20 dokumen kerja sama lintas sektor serta memperpanjang fondasi hubungan strategis kedua negara.
Melansir dari China Daily, Kamis, 21 Mei 2026, dalam pertemuan di Beijing, kedua negara bukan hanya memperpanjang perjanjian yang disebut Perjanjian Kerja Sama Bertetangga Baik dan Persahabatan, tetapi juga menandatangani pernyataan bersama terkait pendalaman koordinasi strategis komprehensif.
Sebanyak 20 dokumen kerja sama diteken, yang mencakup ekonomi dan perdagangan, pendidikan, sains dan teknologi, hingga penguatan koordinasi global multipolar.
Xi bahkan menegaskan hubungan China-Rusia kini berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah dan menjadi model hubungan baru antar negara besar. Putin pun menyebut hubungan Moskow-Beijing telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak bergantung pada dinamika internasional saat ini.
Trump-Xi Jinping Minim Hasil Konkret

Jika dibandingkan dengan pertemuan Trump-Xi yang sebelumnya digadang-gadang menghasilkan kesepakatan perdagangan fantastis, dengan membawa pengusaha AS dari sektor pertanian, penerbangan, kendaraan listrik, hingga chip AI. Namun, hasil akhirnya minim substansi.
Pertemuan kedua pemimpin negara justru lebih banyak dipenuhi seremoni diplomatik dan retorika hangat tanpa terobosan perdagangan besar maupun perjanjian bisnis signifikan.
Kontras itu memperlihatkan perbedaan pendekatan diplomasi kedua kubu. Pertemuan Trump-Xi berfokus pada upaya negosiasi dagang yang masih dibayangi rivalitas ekonomi dan perang tarif AS-China.
Sementara Xi-Putin tampil lebih solid karena dibangun di atas kepentingan geopolitik jangka panjang dalam menghadapi tekanan Barat, memperkuat blok multipolar, dan memperdalam integrasi ekonomi alternatif di luar dominasi AS.
Hubungan Xi dan Putin Lebih Personal

Secara simbolik, hubungan Xi dan Putin juga tampak jauh lebih personal dan konsisten. Kunjungan kali ini menjadi kunjungan ke-25 Putin ke China sejak tahun 2000. Xi menyebut hubungan kedua negara sebagai kemitraan strategis era baru, sedangkan Putin memanggil Xi sebagai “sahabatku”.
Dari sisi ekonomi, hubungan China-Rusia juga menunjukkan angka konkret. Nilai perdagangan bilateral kedua negara sudah melampaui US$200 miliar selama tiga tahun berturut-turut, dan dalam empat bulan pertama 2026 meningkat hampir 20 persen. Momentum itu diterjemahkan menjadi kesepakatan nyata di bidang energi, investasi, transportasi, hingga teknologi.
Sementara itu, pertemuan Trump-Xi justru menunjukkan bahwa besarnya delegasi bisnis belum tentu menghasilkan capaian strategis. Ekspektasi “deal jumbo” akhirnya berujung pada klaim politis tanpa pengumuman kerja sama besar yang benar-benar mengubah lanskap ekonomi kedua negara.


