Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho menyatakan penegakkan pelanggaran lalu lintas akan dimasifkan secara digital melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).
Penegakkan hukum secara manual nantinya tetap akan dilakukan, namun tidak sebesar seperti sebelumnya.
“ETLE 95 persen, itu kita utamakan, karena kita harus lompat dengan kondisi yang digital. Tilang (manual) itu hanya 5 persen,” ujar Irjen Agus kepada wartawan, Jumat (10/10/2025).
Meski penindakan digencarkan secara elektronik, polisi akan memberikan penindakan hukum teguran bersifat edukatif kepada pengendara.
“Masih ada penegakan hukum secara edukatif, itu adalah teguran. Jadi bagi kendaraan yang ditutup (pelatnya), itu kan nanti juga bisa kita tilang,” jelasnya.
Menurut Irjen Agus, banyaknya penindakan hukum bukan menjadi acuan prestasi Polantas, melainkan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat soal tertib berlalu lintas menjadi prestasi tersendiri.
“Kita tidak bangga untuk melakukan penegakan hukum. Ditegur atau mungkin tidak ada penegakan hukum tetapi semuanya tertib, ETLE-nya juga tidak terlalu kerja optimal, nggak ada masalah. Yang penting selamat di jalan,” tegas Irjen Agus.
Lanjutnya, walaupun nantinya penindakan dengan sistem ETLE dimasifkan, pihaknya masih akan tetap melakukan tilang secara manual di lokasi yang belum terjangkau ETLE.
“Kalau kita tidak bisa meng-capture plat kendaraan yang ditutup, kan secara manual ada. Ada handheld, itu bisa dibawa, praktis. Ada tilang manual juga, biarpun hanya 5 persen. Ada juga teguran,” ungkapnya.
Kakorlantas juga menyoroti fenomena pengendara yang menutupi plat nomor kendaraan agar tidak terekam kamera ETLE. Ia mengklaim sudah jarang ditemui perilaku seperti itu.
“Fenomena itu dulu ada ya, tapi hampir sekarang tidak. Saya rasa semuanya, masyarakat kita pintar semuanya. Saya rasa nggak seperti itu, itu kurang bagus ya. Karena memang lalu lintas itu adalah cermin budaya bangsa,” katanya.
“Bangsa kita mau seterusnya tutup-tutup gitu. Lalu lintas itu adalah urat nadi kehidupan. Semuanya orang menggunakan jalan. Saling menghormati, saling menghargai. Bagaimana kita ramah di jalan, kan begitu. Jadi senyum Polantas adalah marka utama,” tambah Irjen Agus.


