Kegagalan Timnas Indonesia menembus Piala Dunia 2026 menjadi momen refleksi bagi dua sosok yang pernah memimpin Garuda Shin Tae-yong dan Alex Pastoor.
Keduanya menunjukkan reaksi berbeda usai Indonesia tersingkir di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Sebelum era Patrick Kluivert, Timnas Indonesia sempat mengalami masa keemasan di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong.
Pelatih asal Korea Selatan itu sukses membawa Indonesia melaju hingga babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 pencapaian bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Selama masa kepelatihannya, Shin memimpin Indonesia dalam 14 pertandingan dengan hasil 6 kemenangan, 4 imbang, dan 2 kekalahan.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat Indonesia menaklukkan Arab Saudi 2-0 di Jakarta pada 19 November 2024.
Namun secara mengejutkan, PSSI memecat Shin Tae-yong pada Januari 2025, hanya beberapa bulan sebelum ronde akhir kualifikasi. Posisi pelatih pun digantikan oleh Patrick Kluivert, yang kemudian gagal membawa Indonesia lolos.
Shin Tae-yong: Sepak Bola Tidak Berhenti di Sini
Setelah mengetahui hasil akhir kualifikasi, Shin menunjukkan sikap bijak dan menenangkan suporter Tanah Air. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal untuk menjadi lebih baik.
Sayang sekali kita gagal di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia. Tapi sepak bola tidak berhenti di sana,” ujar Shin Tae-yong.
Masih ada harapan dan langkah berikutnya. Tim ini punya masa depan.”
Sikap optimistis Shin menuai pujian dari publik Indonesia yang tetap menghargai dedikasinya membangun fondasi kuat untuk sepak bola nasional.
Alex Pastoor: Target Lolos Piala Dunia Tidak Realistis
Berbeda jauh dengan Shin, Alex Pastoor, yang pernah menjadi asisten Patrick Kluivert, justru melontarkan pernyataan yang membuat publik Indonesia geram.
Dalam wawancaranya, Pastoor menilai ambisi Indonesia untuk tampil di Piala Dunia terlalu tinggi mengingat posisi mereka di peringkat 119 dunia.
Tim peringkat 119 dunia mencapai Piala Dunia bukanlah hal yang realistis, Kami sudah berusaha menjelaskan apa yang diharapkan, tapi jelas tidak cukup untuk menandingi tim-tim besar seperti Arab Saudi atau Irak,” ujarnya blak-blakan.
Pastoor menambahkan bahwa proyek pengembangan tim seharusnya berjangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan menuju Piala Dunia.
Proyek ini seharusnya tidak berhenti hanya karena gagal lolos. Harus ada visi jangka panjang,” tegasnya.
