Depresi sering kali dibayangkan sebagai kondisi seseorang yang terus-menerus menangis, kehilangan semangat hidup, atau menunjukkan perilaku ekstrem.
Padahal kenyataannya, banyak orang mengalami depresi tanpa pernah menyadarinya. Mereka tetap bekerja, tetap bercanda, tetap bertemu teman, bahkan terlihat “baik-baik saja”.
Psikolog Meity Arianty, menyadari bahwa masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya depresi. Hal itu karena kombinasi antara minimnya literasi kesehatan mental dan stigma sosial yang kuat di Indonesia.
Remaja sering kali salah mengartikan gejala depresi, seperti perubahan mood drastis, kelelahan, atau mudah marah, sebagai ‘emosi khas remaja’ atau ‘malas’ biasa, bukan sebagai gejala gangguan klinis,”
ujar Meity kepada owrite baru-baru ini.
Selain itu, adanya stigma bahwa depresi adalah tanda kelemahan, kurang iman, atau kurang bersyukur membuat mereka takut dan enggan untuk mengakui perasaannya, hingga enggan mencari bantuan.
Sehingga mereka cenderung menyembunyikan gejalanya atau berpegangan pada mekanisme koping yang tidak sehat (seperti menarik diri atau menyakiti diri) alih-alih melakukan self-assessment yang jujur,”
jelasnya.
Oleh karena itu, kurangnya pengetahuan diri tentang gejala dan ketakutan akan penilaian negatif dari lingkungan adalah dua pilar yang mencegah deteksi dini.
Silahkan di cek berapa banyak Psikolog yang ada di Puskesmas? Padahal psikolog di Puskesmas sangat dibutuhkan oleh masyarakat menengah bawah yang tidak mampu ke Rumah sakit atau praktek mandiri psikolog sebab terlalu mahal,”
paparnya.
Dalam kesempatan itu, Meity membagikan gejala seseorang yang mengalami depresi. Ia mengatakan, biasanya seseorang akan menetap hampir sepanjang hari, setiap hari, selama minimal dua minggu, dan ini merupakan perubahan signifikan dari fungsi sebelumnya.
Tanda-tanda utamanya seperti perasaan sedih atau suasana hati yang tertekan yang berkelanjutan, atau hilangnya minat dan kesenangan dalam hampir semua aktivitas,”
jelasnya.
Gejala lain yang menyertai bisa berupa perubahan signifikan pada nafsu makan atau berat badan, gangguan tidur (sulit tidur insomnia atau tidur berlebihan hipersomnia), kelelahan atau kehilangan energi yang nyata, dan gerakan melambat.
Ada juga perasaan tidak berharga atau bersalah yang berlebihan, penurunan kemampuan untuk berpikir, berkonsentrasi, atau membuat keputusan, serta yang paling serius, pikiran berulang tentang kematian atau ide bunuh diri,”
katanya.
Untuk itu, ketika melihat ada perubahan perilaku dari orang terdekat, Meity mengimbau untuk segera mencari bantuan profesional.
Silahkan ke Psikolog atau layanan hotline kesehatan mental yang terpercaya, meskipun hanya untuk konsultasi awal,”
ujar Meity.
Sementara itu, bagi orang terdekat, tugasnya adalah mendekati mereka dengan kasih sayang, empati, dan tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman di mana mereka merasa didengar tanpa dipaksa untuk sembuh atau bersemangat.
Hindari memaksa mereka bicara, fokuslah pada observasi dan secara perlahan tawarkan dukungan praktis seperti menemani mereka ke psikolog atau membantu dalam tugas sehari-hari, sambil tetap memastikan keamanan mereka jika ada tanda-tanda keinginan untuk bunuh diri,”
tandasnya.
