Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Apa Itu Relapse Phase? Benarkah Tren Ini Bikin Move On Lebih Sehat Setelah Putus Cinta

Fenomena relapse phase cukup tren di kalangan Gen Z. Apa sih itu? Bagaimana ciri-ciri dan cara menghadapinya?

Apa Itu Relapse Phase? Benarkah Tren Ini Bikin Move On Lebih Sehat Setelah Putus Cinta
Ilustrasi relapse phase

Apa itu relapse phase? Istilah ini belakangan ramai dibicarakan warganet, terutama di kalangan Gen Z. Fenomena ini sering dikaitkan dengan seseorang yang sedang dalam proses bangkit setelah patah hati.

Menariknya, makna relapse phase kini mengalami pergeseran. Jika dulu dikaitkan dengan sisi negatif seperti kemunduran, kini istilah tersebut dipahami sebagai bagian dari proses healing atau melepas masa lalu dan kembali menemukan diri sendiri.

Asal Usul Relapse

Secara etimologi, kata relapse berasal dari bahasa Inggris, yaitu “re” yang berarti kembali dan “lapse” yang berarti jatuh atau kemunduran. Menurut Kamus Cambridge, relapse berarti kembali ke kondisi yang lebih buruk setelah sempat membaik. Sementara KBBI mendefinisikannya sebagai kekambuhan atau kembali ke perilaku negatif.

Iklan

Dulunya, istilah ini kental dengan dunia kesehatan dan kecanduan. Relapse sering digunakan untuk menggambarkan pasien yang gejalanya muncul kembali setelah remisi, atau pecandu narkoba yang kambuh setelah menjalani rehabilitasi.

Namun kini, Gen Z memberikan makna baru pada istilah ini. Relapse phase justru dilihat sebagai fase emosional setelah putus cinta, di mana seseorang bukan “kembali ke hal buruk”, melainkan “kembali ke diri sendiri” setelah melepaskan hubungan toxic atau yang sudah berakhir.

Alih-alih dianggap sebagai kemunduran, fase ini dipandang sebagai bagian wajar dari proses move on.

Tanda-tanda Kamu Sedang Mengalami Relapse Phase

Banyak orang mungkin tidak sadar sedang berada di fase ini. Berikut beberapa tanda yang umum dirasakan:

1. Hilang Minat Sementara

Mulai kehilangan minat pada hal-hal yang dulu dianggap menyenangkan, terutama yang berkaitan dengan mantan. Kegiatan yang dulunya terasa seru bisa tiba-tiba hambar.

2. Menghindari Kenangan

Kemudian muncul keinginan untuk menghindari kenangan. Ini bisa berupa membersihkan galeri foto, unfollow atau mute akun mantan, menghindari tempat kencan lama, hingga archive chat.

3. Fokus ke Masa Depan

Di sisi lain, mulai muncul keinginan untuk fokus ke masa depan. Mulai menyusun rencana hidup baru, mencoba hal baru, atau bahkan melakukan solo traveling.

Tak kalah penting, fase ini juga ditandai dengan emosi yang naik turun seperti sedih, marah, kecewa, lalu perlahan berubah menjadi lega dan lebih menerima.

Tips Menghadapi Relapse Phase

Relapse phase bukanlah akhir, melainkan babak baru. Agar prosesnya lebih ringan, coba lakukan hal-hal berikut:

1. Menerima Kenyataan

Ingatlah bahwa masa lalu tidak bisa diubah. Yang bisa kita ubah hanyalah cara kita memaknainya. Belajar dari pengalaman bisa jadi kunci utama.

2. Jaga Kesehatan Fisik dan Psikis

Rutin berolahraga, cukup tidur, konsumsi makanan bergizi, dan lakukan journaling untuk mempercepat pemulihan emosi.

3. Cari Dukungan

Berbagi cerita dengan sahabat, keluarga, atau profesional seperti psikolog akan sangat membantu, agar kamu tidak harus melewati fase ini sendirian.

Relapse phase bisa menjadi momentum untuk mengenal hal-hal yang sebelumnya belum sempat dilakukan.

Banyak psikolog menilai bahwa proses move on tidak selalu linear. Terkadang seseorang merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali sedih. Itulah yang disebut relapse phase.

Alih-alih dihindari, fase ini justru penting untuk membantu seseorang memproses emosi secara utuh. Dengan melewati fase ini, seseorang bisa benar-benar selesai dengan masa lalunya, bukan sekadar menahan perasaannya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Contributor

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.