Kawasan pedalaman mencakup daerah seperti Condet, Kebon Jeruk, dan Ciputat, sedangkan kawasan pesisir berada di wilayah Marunda. Hingga kini, rumah tradisional Betawi banyak ditemukan di Condet dan Marunda Pulo.
Tak heran pada masa Gubernur Ali Sadikin kawasan Condet ditetapkan sebagai kawasan pelestarian budaya Betawi melalui keputusan gubernur pada tahun 1974–1975.
Jenis-Jenis Rumah Adat Betawi
Masyarakat Betawi mengenal beberapa tipe rumah tradisional yang berkembang sesuai pengaruh budaya dan kondisi lingkungan, yaitu:
Rumah yang mendapat pengaruh arsitektur Jawa dengan penyesuaian lokal. Rumah ini dikenal sebagai hunian bangsawan Jawa yang berada di wilayah Betawi.
Rumah ini memiliki ciri khas bentuk persegi panjang yang memanjang dari depan ke belakang. Atapnya berbentuk pelana atau perisai dengan struktur rangka kuda-kuda yang menyatu dari depan hingga belakang.
Disebut rumah Kebaya karena bentuk atapnya berlapis-lapis, sehingga jika dilihat dari samping tampak seperti lipatan kebaya.
Dibangun lebih tinggi dari permukaan tanah karena kondisi Jakarta dahulu banyak berupa rawa, pesisir, dan daerah aliran sungai. Ketinggian rumah disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal.
Filosofi Rumah Adat Betawi
Rumah etnik Betawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi berfilosofi tentang kepercayaan, dan pantangan yang masih dipengaruhi oleh nilai-nilai keislaman masyarakat Betawi.
Makna filosofisnya antara lain Balaksuji yaitu tangga pada rumah panggung, dimaknai sebagai proses menuju kesucian saat seseorang memasuki rumah. Sementara itu, langkan atau pagar depan rumah melambangkan penjaga rumah dan privasi penghuninya.
Selain itu, ornamen rumah seperti tumpal, bunga melati, matahari, kecubung, dan jambu mete juga memiliki nilai simbolik tertentu, termasuk penggunaan warna hijau dan kuning yang sering mendominasi rumah Betawi.
Perubahan dan Perkembangan Rumah Betawi
Seiring perkembangan zaman, rumah adat Betawi yang sarat nilai filosofi semakin jarang ditemui. Banyak masyarakat Betawi kini beralih ke desain rumah modern berbahan semen dan beton, sehingga unsur rumah panggung tradisional mulai menghilang.
Akibatnya, berbagai makna filosofis yang dahulu melekat pada rumah Betawi kini semakin jarang terlihat dan perlahan hanya menjadi bagian dari kenangan budaya.
Dari persebaran wilayah, ragam jenis rumah, hingga filosofi di setiap bagiannya, semuanya menunjukkan kekayaan budaya Betawi yang unik dan penuh nilai sejarah. Maka itu, rumah adat Betawi tidak hanya perlu dikenali, tetapi juga dilestarikan agar tetap menjadi kebanggaan budaya di masa depan.