“Partikel abu yang sangat halus dapat bertahan lama di dalam air, menyumbat saringan, merusak pompa, sekaligus mengurangi efektivitas proses desinfeksi,”
kata Etty.
Selain meningkatkan kekeruhan, abu vulkanik mengandung berbagai mineral yang berpotensi melepaskan sejumlah unsur ke dalam air, seperti sulfat, klorida, fluorida, aluminium, besi, mangan, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium.
Pemeriksaan terhadap unsur toksik seperti arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri juga diperlukan apabila abu vulkanik masuk dalam jumlah besar.
Jernih Belum Tentu Aman
Etty mengingatkan kondisi air yang terlihat jernih tidak dapat menjadi satu-satunya indikator keamanan untuk dikonsumsi. Air yang telah mengendap masih mungkin mengandung unsur terlarut sehingga perlu dianalisis dan diolah sebelum digunakan.
“Merebus air hanya membunuh mikroorganisme, tetapi tidak menghilangkan abu halus, fluorida, garam terlarut, atau logam berat. Bahkan, penguapan selama perebusan berpotensi memekatkan bahan kimia terlarut,”
jelas dia.
Ancaman abu vulkanik juga tidak hanya menyangkut kebutuhan air masyarakat. Ekosistem perairan, termasuk ikan, dapat terdampak ketika partikel abu masuk dalam jumlah besar.
Partikel abu dapat menempel pada insang ikan, menyebabkan peradangan, menghambat pertukaran oksigen, serta memicu stres pernapasan. Kekeruhan yang tinggi juga dapat mengurangi penetrasi cahaya sehingga mengganggu fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan air.
“Jika paparan sangat tinggi, ikan dapat mengalami gangguan fisiologis, kerusakan jaringan, perubahan perilaku, penurunan pertumbuhan, bahkan kematian,”
kata dia.
Risiko kematian ikan secara langsung terutama meningkat pada kolam budi daya yang berukuran kecil, dangkal, padat ikan, dan memiliki pergantian air terbatas. Kondisi tersebut dapat diperparah oleh penurunan oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), perubahan pH secara mendadak, serta penyumbatan aerator dan pompa.
Tutup Sumber Air
Demi mengurangi risiko kontaminasi, Etty menyarankan masyarakat menutup sumur, bak, tandon, dan wadah penyimpanan air. Air hujan pertama setelah erupsi juga sebaiknya tidak ditampung.
Atap dan talang perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum kembali digunakan untuk menampung air.
“Masyarakat sebaiknya tidak membuang abu ke selokan, sungai, dan kolam. Untuk minum dan memasak, sebaiknya menggunakan air kemasan atau pasokan resmi,”
tutur dia.
Sementara bagi pembudi daya ikan, kolam disarankan ditutup sebagian menggunakan terpal tanpa menghambat pertukaran udara. Aerasi juga perlu ditingkatkan, disertai pemantauan berkala terhadap DO, pH, kekeruhan, suhu, dan perilaku ikan.
“Jika ikan megap-megap atau kehilangan keseimbangan, segera lakukan langkah penyelamatan dan gunakan air pengganti yang telah dipastikan aman,”
ucap Etty.