Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Perut Kenyang, Gizi Kopong? Saatnya Kenal Beras Fortifikasi

Beras fortifikasi bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro, tapi tetap perhatikan pola makan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari (kanan) menunjukkan barang bukti beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari (kanan) menunjukkan barang bukti beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari (kanan) menunjukkan barang bukti beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar di gedung Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (15/9/2026). (ANTARA FOTO/Samsul/Bal/kye)

“Kalau belum ‘ketemu’ nasi, berarti belum makan.”

Kalimat itu tak asing bagi orang Indonesia. Hampir setiap hari, masyarakat memanfaatkan nasi sebagai sumber energi utama peneman lauk, sayur, sambal. Tahukah kamu, kenyang belum bisa jadi indikasi kebutuhan gizi harian terpenuhi?

Berasa memang jadi sumber karbohidrat yang sangat familiar di masyarakat, Namun, beras punya kandungan vitamin dan mineral yang berbatas, apalagi beras sudah mengalami proses penggilingan yang bisa mengurangi sebagian zat gizi pada lapisan luar beras.

Iklan

Inilah yang membuat orang tak sadar kalau ternyata tubuh kekurangan vitamin dan mineral alias hidden hunger atau kelaparan tersembunyi. Demi mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah mengembangkan sebuah inovasi: beras fortifikasi.

Apa Itu Beras Fortifikasi?

Menurut informasi dari Halodoc, dilansir pada 16 September 2026, beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu yang diperoleh melalui proses teknologi pangan.

Beras tersebut dapat ditambahkan berbagai zat gizi lain seperti zat besi, asam folat, zinc, serta vitamin B1, B3, B6, dan B12. Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan mencampurkan beras biasa dengan kernel atau butiran beras yang telah diberi tambahan vitamin dan mineral.

Jadi, secara sederhana, bentuknya tetap seperti beras. Setelah dimasak, beras tersebut juga diharapkan tetap bisa dikonsumsi seperti nasi pada umumnya. Fortifikasi ini ditujukan untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi mikro, terutama pada kelompok masyarakat yang berisiko mengalami kekurangan nutrisi.

Beda dengan Biofortifikasi

Jangan tertukar, ya! Beras fortifikasi dan biofortifikasi punya tujuan yang mirip, tetapi prosesnya berbeda.

Berdasar penjelasan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, biofortifikasi dilakukan sejak tanaman padi masih tumbuh di sawah. Umpama, varietas Inpari IR Nutri Zinc yang dikembangkan melalui pemuliaan tanaman. Varietas tersebut memiliki kandungan zinc lebih tinggi dibandingkan beras biasa.

Sementara itu, beras fortifikasi mendapatkan tambahan vitamin dan mineral setelah padi dipanen dan diolah menjadi beras. Biar gampang: biofortifikasi meningkatkan kandungan gizi dari sisi tanaman, sedangkan fortifikasi menambahkan zat gizi melalui proses pengolahan pangan.

Kenapa Perlu Fortifikasi?

Tubuh bukan sekedar butuh kenyang saja, namun membutuhkan zat besi, zinc, asam folat, dan berbagai vitamin lain untuk menjalankan fungsi penting seperti pembentukan sel darah merah, metabolisme energi, hingga mendukung pertumbuhan.

Jika tubuh kekurangan zat gizi mikro bisa saja menyebabkan masalah kesehatan seperti anemia dan gangguan pertumbuhan. Karena nasi dikonsumsi hampir setiap hari oleh masyarakat Indonesia, beras menjadi salah satu pangan yang dinilai strategis untuk membantu meningkatkan asupan zat gizi.

Namun, bukan berarti makan nasi fortifikasi otomatis membuat pola makan menjadi sempurna, sebab nasi juga harus didampingi dengan lauk berprotein, sayur, buah, serta sumber makanan lain agar kebutuhan gizi harian lebih beragam.

Jadi, perlukah kamu mengganti dari beras biasa ke beras fortifikasi? Jawabannya, belum tentu.

Beras fortifikasi bisa menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro, tetapi kamu juga tetap perlu untuk memperhatikan pola makan secara keseluruhan.

Kalau menu keseharian hanya nasi dan lauk seadanya, mengganti beras saja tidak otomatis menyelesaikan semua persoalan gizi. Menurut Halodoc, kebutuhan vitamin dan mineral setiap orang juga dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi tubuh, pola makan, hingga kebutuhan fisiologis tertentu.

Suplemen pun tidak sebaiknya dianggap sebagai pengganti makanan bergizi. Jika seseorang mengalami keluhan seperti mudah lelah, pucat atau sering pusing, pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui penyebabnya.

Jadi, buat kamu yang setiap hari hampir enggak bisa lepas dari nasi, kini saatnya melihat makanan pokok bukan cuma “Bikin kenyang enggak?”, tetapi “Gizi cukup enggak?”

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.