Setiap masyarakat memiliki cara berbeda dalam menghormati orang yang telah meninggal. Jika pemakaman identik dengan menguburkan jenazah di dalam tanah atau kremasi, sejumlah masyarakat di berbagai negara memiliki tradisi yang berbeda.
Ada jenazah yang ditempatkan di tebing, tubuh yang diberikan kepada burung pemakan bangkai, hingga abu kremasi yang diubah menjadi butiran menyerupai permata.
Tradisi tersebut tidak sekadar dilakukan karena keunikan bentuk, tetapi berkaitan dengan kepercayaan dan pandangan masyarakat terhadap kematian. Merangkum dari berbagai sumber, Selasa, 22 September 2026, berikut ritual pemakaman unik dari berbagai negara.
Iklan
Sky Burial, Tibet
Di Tibet, terdapat tradisi pemakaman yang dikenal sebagai sky burial atau jhator. Dalam praktik ini, jenazah dibawa ke lokasi khusus di kawasan pegunungan dan tubuhnya diberikan kepada burung pemakan bangkai, terutama burung nasar.
Tradisi tersebut berkaitan dengan kepercayaan Buddhisme Tibet mengenai kehidupan setelah kematian dan kelahiran kembali. Situs resmi pemerintah China menjelaskan bahwa jhator berarti “memberi makan burung” dan merupakan salah satu bentuk pemakaman yang umum di Tibet.
Tubuh dipandang sebagai wadah sementara, sementara kesadaran atau jiwa melanjutkan perjalanan setelah kematian. Memberikan tubuh kepada makhluk hidup dapat dipandang sebagai bentuk persembahan terakhir.
Jenazah di Tebing, Sagada, Filipina
Beranjak ke Filipina, tepatnya Sagada di Mountain Province, terdapat tradisi hanging coffins atau peti mati gantung. Peti mati ditempatkan di celah atau sisi tebing batu kapur, sehingga tidak berada di dalam tanah seperti pemakaman pada umumnya.
Menurut Departemen Pariwisata Filipina, tradisi tersebut dilakukan oleh masyarakat adat Kankanaey di Sagada. Jenazah ditempatkan di atas tanah dan di kawasan pegunungan karena dipercaya dapat mendekatkannya dengan roh leluhur.
Pemerintah pariwisata Filipina juga mencatat bahwa hanging coffins menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Igorot. Jadi, praktik ini tidak dapat digeneralisasi sebagai tradisi pemakaman seluruh masyarakat Filipina.
Jenazah Diubah Jadi Manik-manik, Korea Selatan
Di Korea Selatan, ada praktik pemakaman modern yang memungkinkan abu hasil kremasi diubah menjadi butiran menyerupai manik-manik.
Praktik ini berkembang seiring meningkatnya penggunaan kremasi dan keterbatasan lahan untuk pemakaman. Abu jenazah diproses hingga menjadi butiran berwarna biru kehijauan, merah muda, abu-abu, hingga hitam.
Butiran tersebut umumnya tidak digunakan sebagai perhiasan, melainkan disimpan dalam wadah kaca atau piring di rumah. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu alternatif bagi keluarga yang ingin tetap menyimpan abu orang yang telah meninggal di dekat mereka.
Peti Mati Berbentuk Unik, Ghana
Di Ghana, khususnya dalam tradisi masyarakat Ga, peti mati tidak selalu berbentuk kotak kayu biasa. Ada fantasy coffin, yaitu peti mati yang dibuat menyerupai benda atau bentuk tertentu yang berkaitan dengan kehidupan orang yang meninggal.
Bentuknya bisa berupa pesawat, ikan, kamera, sepatu, mobil, hingga berbagai benda lainnya. Tradisi ini membuat pemakaman tidak hanya menjadi momen perpisahan, tetapi juga cara keluarga menggambarkan sosok orang yang telah meninggal.
National Museum of Funeral History juga mencatat bahwa desain peti dapat merepresentasikan pekerjaan, karakter, status sosial, maupun sesuatu yang diharapkan oleh orang tersebut di kehidupan setelah kematian.
Membungkus Kembali Jenazah, Madagaskar
Tradisi lain yang cukup berbeda ditemukan di Madagaskar melalui ritual Famadihana, terutama di wilayah dataran tinggi.
Dalam ritual ini, keluarga secara berkala membuka makam leluhur untuk mengambil jasad atau sisa-sisa jenazah. Kemudian, jasad tersebut dibungkus kembali menggunakan kain baru sebelum dikembalikan ke makam.
National Museum of African Art milik Smithsonian menjelaskan bahwa dalam tradisi ini keluarga membawa kain dan makanan untuk sebuah perayaan yang dapat berlangsung selama dua hari. Setelah makam dibuka dan jasad dibungkus dengan kain baru.
Adat dan Budaya
Setiap ritual pemakaman memiliki latar belakang budaya dan kepercayaan yang berbeda. Tradisi yang bagi sebagian orang terlihat tidak biasa ternyata menjadi bagian penting dalam cara suatu masyarakat menghormati orang yang telah meninggal.
Merujuk berbagai tradisi tersebut pemakaman bukan hanya tentang bagaimana jenazah ditempatkan, tetapi juga menjadi cara keluarga dan masyarakat mengenang, menghormati, serta melepaskan orang yang mereka cinta.