Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Sampah Dapur Jadi Pakan: Pasukan Maggot ‘Sulap’ Sisa Makanan Jadi Cuan

Meski dapat membantu mengolah sampah organik, penggunaan maggot tetap membutuhkan proses pemilahan. Harus ada pemisahan bahan.

Maggot.
Maggot. (Unsplash/Robert Gunnarsson)

Sampah dapur seperti sisa nasi, sayuran, buah, dan makanan yang tidak habis sering kali langsung masuk ke tempat sampah. Padahal, sebagian dari sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan dan diolah kembali agar tidak berakhir menumpuk di tempat pembuangan.

Salah satu cara yang mulai digunakan untuk mengolah sampah organik adalah memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF). Larva lalat BSF ini dapat mengonsumsi bahan organik dan mengubahnya menjadi biomassa maggot serta residu yang masih dapat dimanfaatkan.

Penggunaan maggot juga mulai diterapkan di berbagai komunitas di Indonesia, baik untuk mengurangi sampah rumah tangga maupun menghasilkan produk lain seperti pakan ternak dan pupuk organik.

Iklan

Larva BSF

Dilansir dari laman Wastec International, Rabu, 23 September 2026, maggot merupakan sebutan untuk larva Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens. Serangga ini termasuk dalam famili Stratiomyidae. Pada fase larva, BSF memiliki kemampuan mengonsumsi berbagai bahan organik sehingga banyak dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah.

Berbeda dengan lalat rumah yang umum ditemukan di sekitar makanan atau tempat sampah, BSF dewasa tidak dikenal sebagai penyebar penyakit seperti lalat rumah.

Dalam pengelolaan sampah, bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah fase larva karena maggot membutuhkan bahan organik sebagai sumber makanan. Kemampuan tersebut membuat maggot dapat digunakan untuk membantu mengurangi sampah organik.

Mengolah Sampah Organik

Pengelolaan sampah menggunakan maggot dimulai dari pemilahan sampah. Sampah organik seperti sisa makanan dan bahan pangan dipisahkan dari sampah anorganik seperti plastik, kaca, atau logam.

Sampah organik yang sudah dipilah kemudian diberikan sebagai pakan maggot. Larva BSF akan mengonsumsi bahan tersebut dan mengubahnya menjadi biomassa tubuh.

Proses ini dapat berlangsung relatif cepat sehingga volume sampah organik yang harus dibuang dapat berkurang.

Sampah Jadi Pakan

Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the Gunung Djati Conference Series, maggot BSF memiliki kandungan protein sekitar 45–50 persen dan lemak sekitar 24–30 persen.

Kandungan tersebut membuat maggot berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif dalam budi daya ikan, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada pakan konvensional.

Tidak hanya maggot, proses penguraian sampah organik juga menghasilkan residu atau kotoran maggot yang dikenal sebagai frass. Residu ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik atau pembenah tanah.

Pemanfaatan

Pemanfaatan maggot untuk sampah organik bukan hanya dilakukan dalam penelitian. Sejumlah kegiatan berbasis masyarakat di Indonesia juga mulai menerapkannya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat pada 2025 mencatat 4 dari 11 unit komunitas yang menjadi sasaran mulai menerapkan pemilahan sampah organik.

Selain itu, seluruh peserta demonstrasi yang terlibat dilaporkan berhasil mempraktikkan budi daya maggot secara mandiri.

Tidak Semua Sampah

Meski dapat membantu mengolah sampah organik, penggunaan maggot tetap membutuhkan proses pemilahan. Sampah dapur yang diberikan harus dipisahkan terlebih dahulu dari plastik, kaca, logam, dan jenis sampah lainnya.

Jumlah dan kondisi pakan juga perlu diperhatikan. Jika pengelolaan tidak dilakukan dengan baik, masalah seperti bau, kelembapan berlebih, dan kemunculan hama tetap dapat terjadi.

Karena itu, maggot bukan berarti membuat sampah bisa dibuang begitu saja. Jika dilakukan dengan pemilahan dan pengelolaan yang tepat, cara ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi sampah organik dari sumbernya.

Iklan