Batu akik dikenal sebagai salah satu batu alam yang kerap digunakan sebagai mata cincin. Warna, corak, dan pola alaminya membuat setiap batu memiliki tampilan yang berbeda.
Namun, sebelum dipotong dan dipoles menjadi aksesori, batu akik terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung sangat lama di dalam bumi.
Batuan mulia dan batu setengah mulia terbentuk melalui berbagai proses geologi, seperti aktivitas magma, metamorfosa, hingga sedimentasi. Dari ribuan jenis mineral yang ada di Bumi, hanya sebagian yang dapat dimanfaatkan sebagai batu mulia maupun batu hias.
Iklan
Proses Terbentuk
Ilustrasi Seorang gadis memegang kristal akik. (Sumber: Unsplash/Emilija Launikaityte)
Melansir dari laman The Natural Gemstone Company, batu akik terbentuk melalui proses hidrotermal. Proses ini berkaitan dengan larutan bersuhu tinggi yang bergerak dari bagian dalam bumi menuju wilayah yang lebih dekat dengan permukaan.
Ketika larutan hidrotermal semakin mendingin, material yang dibawanya dapat mengisi rekahan dan pori-pori pada batuan. Dalam kondisi tertentu, larutan tersebut juga dapat mengisi fosil kayu hingga membentuk batuan yang telah membatu. Suhu pembentukannya diperkirakan sekitar 300 derajat Celsius.
Proses tersebut membuat batu akik memiliki berbagai pola dan karakter yang berbeda. Setelah ditemukan, batu kemudian dapat dipotong dan dipoles untuk menonjolkan warna serta coraknya sebelum digunakan sebagai bahan perhiasan.
Sejak Zaman Prasejarah
Penggunaan batu akik sebagai perhiasan bukan hanya ditemukan dalam sejarah bangsa-bangsa di luar Nusantara. Di Indonesia, jejaknya bahkan dapat ditelusuri hingga masa prasejarah.
Dalam Sejarah Nasional Indonesia Volume 1, Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto mencatat bahwa manusia pada masa perundagian atau zaman logam membuat manik-manik dari berbagai bahan. Batu akik, kaca, dan tanah liat yang dibakar termasuk di antaranya.
Batu akik juga memiliki fungsi yang lebih dari sekadar hiasan. Mingguan Djaja pada 1964 mencatat bahwa batu akik dan batu-batu lain yang dianggap menarik memiliki peran dalam kehidupan rohaniah manusia prasejarah.
Benda Ritual
Pada masa Hindu-Buddha, batu akik juga ditemukan sebagai bagian dari benda yang dikuburkan di dalam candi.
Arkeolog R. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 menjelaskan bahwa benda-benda yang dikuburkan dalam candi antara lain potongan berbagai jenis logam dan batu akik yang disertai sesajian.
Penggunaan batu akik kemudian tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan. Kerajaan-kerajaan di Nusantara juga menjadikannya sebagai salah satu komoditas perdagangan.
Batu Akik Kristal. (Sumber: Unsplash/KaySea Greene)
Dari Batu Alam
Untuk menjadi mata cincin, batu akik yang ditemukan dari alam perlu melalui proses pengolahan. Batu dipilih berdasarkan karakter, warna, pola, dan kondisinya, kemudian dipotong sesuai bentuk yang diinginkan.
Setelah dipotong, permukaan batu diasah dan dipoles agar lebih halus sekaligus menonjolkan warna serta corak alaminya. Batu yang sudah selesai dipoles kemudian dapat dipasang pada dudukan cincin sebagai mata cincin.
Karena pola dan warna batu akik terbentuk melalui proses alam, setiap batu dapat memiliki tampilan yang berbeda. Inilah yang membuat batu akik tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri bagi orang yang mengoleksinya.