Lantas, bagaimana pergerakan matahari bisa membuat jadwal salat terus berubah?
1. Waktu Salat Mengikuti Posisi Matahari
Selama ini, kita mungkin terbiasa menganggap pukul 12.00 sebagai waktu Zuhur. Padahal, waktu tersebut bukan patokan mutlak untuk menentukan masuknya waktu salat.
Dalam kajian fikih, waktu Zuhur dimulai ketika matahari tergelincir ke arah barat setelah mencapai posisi tertingginya di langit. Fenomena ini disebut zawal.
Menurut penjelasan Ustaz Ahmad Hilmi, ketika matahari mulai bergeser ke barat, bayangan benda akan berubah arah. Peristiwa inilah yang menjadi salah satu penanda masuknya waktu Zuhur.
Karena posisi matahari berubah dari hari ke hari, waktu terjadinya zawal juga tidak selalu sama. Akibatnya, jadwal Zuhur bisa lebih awal atau lebih lambat beberapa menit dibandingkan hari sebelumnya.
2. Bayangan Benda Juga Menentukan Waktu Salat
Bukan hanya waktu Zuhur, beberapa waktu salat lainnya juga berkaitan dengan fenomena alam.
Misalnya, waktu Asar yang dalam ketentuan fikih umumnya dimulai ketika panjang bayangan benda mencapai panjang tertentu dibandingkan tinggi benda tersebut, dengan memperhitungkan bayangan saat matahari berada di titik tertingginya.
Ustaz Ahmad Hilmi memberikan gambaran sederhana menggunakan pena setinggi 10 sentimeter. Dalam kondisi yang sesuai dengan ketentuan waktu Asar, panjang bayangan pena bisa jadi salah satu penanda masuknya waktu tersebut.
Sementara itu, menurut ketentuan fiqih waktu Maghrib dimulai ketika matahari terbenam, Subuh dimulai saat terbit fajar, dan Isya dimulai setelah hilangnya cahaya merah senja.
Artinya, setiap waktu salat memiliki tanda alam tersendiri. Jam hanya membantu kita mengetahui kapan tanda-tanda tersebut diperkirakan terjadi di lokasi masing-masing.
3. Kemiringan Bumi Membuat Waktu Salat Bergeser
Lalu, mengapa posisi matahari bisa berubah sepanjang tahun? Salah satu penyebabnya adalah kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya.
Kondisi ini membuat posisi semu matahari di langit berubah sepanjang tahun sekaligus memengaruhi panjang siang dan malam. Perubahan tersebut turut memengaruhi waktu matahari terbit, mencapai titik tertinggi, dan terbenam.
Di Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa, pergeseran jadwal salat umumnya relatif kecil dibandingkan wilayah yang berada jauh dari khatulistiwa. Namun, perubahan beberapa menit tetap bisa terjadi dan terlihat jelas jika jadwal diperhatikan setiap hari.
Selain kemiringan sumbu Bumi, bentuk orbit Bumi yang elips juga memengaruhi pola waktu matahari. Perpaduan kedua faktor tersebut membuat waktu matahari tidak selalu selaras dengan pembagian waktu pada jam secara persis.
4. Kenapa Jadwal Salat Setiap Daerah Berbeda?
Pernah membandingkan jadwal salat Jakarta dengan Bandung atau Surabaya? Meski berada di negara yang sama, waktu salat di setiap kota tidak selalu seragam.
Penyebabnya adalah perbedaan letak geografis, terutama garis bujur dan lintang. Posisi tersebut memengaruhi kapan matahari terbit, mencapai titik tertinggi, dan terbenam di suatu wilayah.
Sebagai contoh, dua kota yang berada pada garis bujur berbeda bisa mengalami tengah hari matahari pada waktu jam yang berbeda pula.
Karena itu, jadwal salat disusun berdasarkan koordinat lokasi dan perhitungan astronomi. Jadwal untuk satu kota belum tentu tepat jika digunakan sebagai patokan di kota lain, terutama jika jarak keduanya cukup jauh.
5. Kenapa Jadwal Salat di Aplikasi HP Bisa Berbeda?
Perbedaan jadwal bukan hanya terjadi antar kota. Dua aplikasi salat di ponsel yang digunakan pada lokasi sama pun terkadang menampilkan waktu berbeda satu atau dua menit.
Hal ini bisa terjadi karena aplikasi menggunakan metode perhitungan atau parameter astronomi yang berbeda, terutama untuk menentukan waktu Subuh dan Isya.
Selain itu, perbedaan titik koordinat, penetapan waktu kehati-hatian atau ihtiyath, serta pembulatan hasil perhitungan juga dapat memengaruhi waktu yang ditampilkan.
Karena itu, pengguna sebaiknya memeriksa pengaturan lokasi dan metode perhitungan pada aplikasi. Untuk memastikan jadwal yang digunakan sesuai dengan wilayah tempat tinggal, jadwal dari Kementerian Agama atau otoritas keagamaan setempat dapat dijadikan rujukan.
Nah, perubahan jadwal salat bukan berarti waktunya ditentukan secara sembarangan. Justru, pergeseran tersebut terjadi karena waktu ibadah mengikuti fenomena alam yang terus bergerak.
Jadi, ketika azan Zuhur hari ini terdengar sedikit lebih lambat daripada kemarin, ada penjelasan astronomi di baliknya. Bukan mataharinya yang terlambat, melainkan posisi dan pergerakannya terhadap Bumi yang membuat waktu matahari terus mengalami perubahan.