Meski begitu, bukan berarti kebiasaan mengonsumsi makanan yang tidak higienis membuat tubuh lebih kuat.
Apa Itu Hygiene Hypothesis?
Dalam penjelasannya di akun TikTok @ikhsanqthii yang dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026, dr. Ayman menjelaskan bahwa paparan mikroorganisme dapat membuat sistem kekebalan tubuh belajar mengenali ancaman tertentu.
Secara sederhana, tubuh memiliki mekanisme pertahanan yang dapat merespons paparan mikroorganisme. Namun, respons tersebut tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap semua kuman yang masuk melalui makanan.
Antibodi yang terbentuk memiliki target spesifik. Artinya, kekebalan terhadap mikroorganisme tertentu tidak menjamin seseorang aman dari bakteri, virus, atau parasit penyebab penyakit lainnya.
Itulah sebabnya orang yang terbiasa makan sembarangan tetap bisa mengalami keracunan makanan atau infeksi saluran pencernaan.
Kenapa Ada yang Langsung Diare?
Orang yang terbiasa menjaga kebersihan makanan bukan berarti memiliki sistem imun yang lemah. Ketika seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, risiko mengalami diare dipengaruhi oleh jenis mikroorganisme, jumlah kuman yang masuk ke tubuh, serta kondisi kekebalan dan saluran pencernaannya.
dr. Ayman menjelaskan bahwa salah satu faktor penting adalah infectious dose, yakni jumlah mikroorganisme yang diperlukan untuk menimbulkan infeksi.
Semakin berbahaya mikroorganisme dan semakin besar paparan yang diterima, risiko infeksi bisa meningkat. Namun, jumlah kuman yang dapat menyebabkan penyakit berbeda-beda, sehingga makanan yang terlihat bersih pun belum tentu bebas dari kontaminasi.
Sebaliknya, orang yang sering makan sembarangan dan terlihat baik-baik saja belum tentu juga aman dari bakteri dan kuman, karena tidak munculnya gejala bukan jaminan bahwa tubuhnya terbebas dari dampak paparan mikroorganisme.
Makanan Kotor Tetap Berbahaya
Menurut dr. Ayman, paparan mikroorganisme dari makanan yang tidak higienis secara berulang tetap dapat memicu inflamasi atau peradangan pada usus.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk sakit perut atau diare. Dalam kondisi tertentu, paparan infeksi berulang dapat mengganggu kesehatan saluran pencernaan dan penyerapan zat gizi.
Pada anak-anak, infeksi berulang dan gangguan penyerapan nutrisi dapat meningkatkan risiko malnutrisi serta menghambat pertumbuhan, termasuk berkontribusi terhadap risiko stunting.
Karena itu, anggapan bahwa seseorang tetap aman meski mengkonsumsi makanan kotor hanya karena sudah terbiasa merupakan pemahaman yang keliru.
Tubuh yang mampu bertahan dari paparan sebelumnya belum tentu mampu melawan mikroorganisme berbeda atau paparan dalam jumlah yang lebih besar.
Sebab sistem kekebalan tubuh tidak perlu dilatih dengan sengaja mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Menjaga kebersihan makanan, mencuci tangan sebelum makan, serta memastikan makanan dimasak dan disimpan dengan benar tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko infeksi.
Jadi, kalau ada orang yang terbiasa makan sembarangan tetapi jarang diare, bukan berarti tubuhnya kebal terhadap makanan kotor. Dan kalau ada orang yang mengalami diare setelah mengkonsumsi makanan tertentu juga tidak otomatis memiliki sistem imun yang lemah.
Intinya, tubuh memang bisa membentuk respons kekebalan terhadap mikroorganisme tertentu, tetapi kebiasaan makan jorok bukan cara aman untuk memperkuat imun.
Makanan yang tampak sepele dan hanya sedikit terkontaminasi pun bisa membawa kuman penyebab penyakit, jadi jangan sengaja mempertaruhkan kesehatan demi membuktikan tubuh tahan banting.