Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Cari Tahu

Biduran Datang Tanpa Aba-Aba, Ini Pemicunya Selain Alergi

Sebagian kasus berkaitan dengan mekanisme autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh berperan dalam mengaktifkan sel mast.

Ilustrasi biduran.
Ilustrasi biduran. (Magnific)

Biduran sering muncul tiba-tiba dalam bentuk bentol kemerahan yang terasa gatal, bahkan bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Kondisi ini kerap dianggap sebagai tanda alergi makanan. Padahal, penyebab biduran cukup beragam.

Dalam dunia medis, biduran dikenal sebagai urtikaria (urticaria). Kondisi ini terjadi ketika sel mast di kulit melepaskan histamin dan zat kimia lain yang memicu pembengkakan serta rasa gatal.

Meski sering mereda dengan sendirinya, biduran yang berulang perlu diperhatikan karena pemicunya tidak selalu mudah dikenali.

Iklan

Bisa Dialami Banyak Orang

Mengutip dari jurnal The International Guideline for the Definition, Classification, Diagnosis and Management of Urticaria, M18 Oktober 2026, prevalensi urtikaria akut sepanjang hidup diperkirakan mencapai sekitar 20 persen. Artinya, sekitar satu dari lima orang berpotensi mengalami biduran akut setidaknya sekali dalam hidup.

Biduran biasanya ditandai dengan bentol yang menonjol, terasa gatal, dan dapat berubah bentuk maupun ukuran. Warna bisa kemerahan atau menyerupai warna kulit, bergantung pada warna kulit seseorang.

Salah satu ciri khas adalah bentol dapat menghilang dalam waktu relatif singkat, kemudian muncul kembali di bagian tubuh lain. Pada umumnya, setiap bentol individual menghilang dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa meninggalkan bekas.

Penyebab

Tidak semua biduran disebabkan oleh alergi. Berikut beberapa faktor yang dapat memicu kemunculannya.

1.Alergi Makanan dan Obat-obatan

Makanan tertentu, seperti telur, susu, kacang-kacangan, ikan, dan makanan laut, dapat memicu biduran pada orang yang memiliki alergi terhadap bahan tersebut.

2. Perubahan Suhu dan Keringat

Kulit juga dapat bereaksi terhadap faktor fisik, seperti udara dingin, panas, paparan sinar matahari, atau peningkatan suhu tubuh saat berolahraga.

3. Infeksi Virus atau Bakteri

Pada sebagian kasus, bentol dan gatal muncul bersamaan dengan atau setelah infeksi saluran pernapasan. Kondisi ini cukup penting diperhatikan, terutama ketika biduran dialami anak-anak.

4. Tekanan dan Gesekan pada Kulit

Pernah melihat kulit membentuk garis kemerahan dan bentol setelah digaruk? Hal tersebut bisa berkaitan dengan dermatografisme, salah satu bentuk urtikaria yang dipicu oleh gesekan atau tekanan pada kulit.

5. Stres dan Aktivitas Fisik

Stres emosional dan aktivitas fisik yang meningkatkan suhu tubuh dapat memperburuk atau memicu gejala pada sebagian orang.

6. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Sebagian kasus berkaitan dengan mekanisme autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh berperan dalam mengaktifkan sel mast.

Cara Mengurangi Risiko

Langkah pertama adalah mengenali pola kemunculan biduran. Catat makanan, obat-obatan, aktivitas, suhu lingkungan, serta produk yang digunakan sebelum bentol muncul. Foto ruam ketika masih terlihat juga dapat membantu dokter melakukan evaluasi.

Hindari pemicu yang sudah terbukti berkaitan dengan gejala dan jangan langsung menghilangkan banyak jenis makanan tanpa alasan medis yang jelas. Dokter dapat merekomendasikan antihistamin untuk membantu mengendalikan rasa gatal dan bentol sesuai kondisi pasien.

Pemilihan obat dan dosis sebaiknya mengikuti anjuran tenaga medis, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, atau orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Mengenali pola gejala dan memahami tanda bahaya membantu seseorang menentukan kapan cukup melakukan perawatan mandiri dan kapan perlu mencari pertolongan medis.

Iklan