Kandungan Nutrisi Kol
Kol atau kubis merupakan sayuran rendah kalori yang mengandung sejumlah nutrisi penting. Berdasarkan data USDA FoodData Central, yang dikutip pada 18 Oktober 2026, dalam 100 gram kol mentah terdapat sekitar 25 kalori, 2,5 gram serat, serta vitamin C dan vitamin K.
Kol juga mengandung senyawa glukosinolat yang secara alami ditemukan pada kelompok sayuran cruciferous, seperti brokoli dan kembang kol.
Namun, pengolahan dengan suhu tinggi dapat memengaruhi kandungan nutrisi tersebut. Vitamin C, misalnya, termasuk vitamin yang sensitif terhadap panas sehingga kadarnya dapat berkurang selama proses memasak.
Tidak Sehat
Persoalan utama kol goreng bukan terletak pada jenis sayuran, melainkan cara pengolahan. Ketika digoreng, kol dapat menyerap minyak sehingga kandungan lemak dan kalori meningkat dibandingkan kol mentah atau kukus.
Menurut Dr. Zuraidah Nasution, dosen Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB University, proses menggoreng juga dapat mengurangi kandungan zat gizi mikro pada sayuran, terutama vitamin yang larut dalam air.
“Cara terbaik mengolah sayuran adalah dengan menggunakan prinsip pemaparan panas yang minimal dan penggunaan air yang tidak berlebih, seperti ditumis atau dikukus,”
jelas dia.
Ia menjelaskan teknik deep frying menyebabkan air dalam sayuran menguap dan rongga terisi minyak, sehingga menambah asupan lemak dan kalori.
“Tanpa disadari, Anda menambahkan lemak ekstra ke tubuh hanya karena ingin mendapatkan tekstur renyah dari sayur yang digoreng,”
kata Zuraidah.
Benarkah Memicu Kanker?
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan minyak pada suhu tinggi. Proses pemanasan dapat memicu oksidasi minyak dan menghasilkan senyawa yang berpotensi membahayakan kesehatan.
International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan emisi dari penggorengan bersuhu tinggi sebagai kemungkinan karsinogenik bagi manusia. Namun, hal ini tidak berarti mengonsumsi satu porsi kol goreng secara langsung menyebabkan kanker.
Risiko kesehatan bergantung pada berbagai faktor, termasuk suhu penggorengan, kualitas minyak, frekuensi konsumsi, dan pola makan secara keseluruhan.
Masih Boleh Makan Kol Goreng?
Kol goreng tidak harus sepenuhnya dihindari. Mengonsumsi sesekali dalam jumlah wajar masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang bervariasi. Namun, sebaiknya jangan menjadikan satu-satunya cara untuk mengonsumsi sayuran.
Sebagai alternatif, kol dapat dikukus atau ditumis sebentar dengan sedikit minyak agar kandungan gizinya lebih terjaga. Metode ini juga membantu membatasi tambahan lemak dari proses penggorengan.
Seperti disampaikan Zuraidah, sayuran sebaiknya diolah dengan teknik yang mempertahankan nilai gizinya. Dengan memperhatikan cara memasak, kualitas minyak, dan jumlah konsumsi, masyarakat tetap bisa menikmati sayuran sekaligus memperoleh manfaat nutrisi.