3 Aksi Ikonik Greenpeace di Bundaran HI, dari Monster Oligarki hingga Spanduk Raksasa
Bukan pertama kali, ini 3 aksi ikonik Greenpeace yang digelar di Bundaran HI. Mulai dari kritik energi batu bara, sindiran monster oligarki, hingga desakan penanganan krisi iklim.
Greenpeace Indonesia beberapa kali menggelar aksi unik di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta. Lewat spanduk raksasa hingga instalasi gurita, mereka menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
Dirangkum dari laman resmi Greenpeace Indonesia, berikut tiga aksi ikonik yang pernah dilakukan lembaga pemerhati lingkungan internasional tersebut:
1. Spanduk “Orang Baik Pilih Energi Baik”
Spanduk Greenpeace Indonesia “Orang Baik Pilih Energi Baik.” (Sumber: Greenpeace Indonesia)
Pada 23 Oktober 2019, lima aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Patung Selamat Datang dan membentangkan spanduk bertuliskan “Orang Baik Pilih Energi Baik”.
Iklan
Aksi ini menjadi kritik terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dinilai masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama, alih-alih beralih ke energi terbarukan. Sedangkan frasa “Orang Baik” ditujukan untuk menyindir narasi yang selama ini digunakan untuk kampanye.
Greenpeace melakukan aksi ini bertepatan dengan pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju. Tak hanya di Bundaran HI, lima aktivis lainnya juga memanjat Patung Dirgantara atau Patung Pancoran untuk menyuarakan pesan serupa.
Pada 6 Oktober 2023, Greenpeace Indonesia kembali menghadirkan aksi tak biasa di Bundaran HI. Mereka membawa sebuah instalasi gurita raksasa bertajuk “Monster Oligarki” yang ditempatkan di kolam Bundaran HI.
Instalasi tersebut menampilkan tentakel gurita yang mencengkeram tiga manekin yang menyerupai figur politikus yang ingin maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2024.
Lewat aksi ini, Greenpeace mengingatkan masyarakat tentang potensi pengaruh oligarki dalam politik dan pembuatan kebijakan. Mereka juga menyerukan #PemiluTanpaOligarki dan #PilihBumiBukanOligarki.
Menariknya, simbol gurita itu juga pernah digunakan Greenpeace dalam aksi pada 5 Oktober 2021 untuk memprotes pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja.
3. Spanduk Raksasa Sentil Krisis Iklim
Aktivis Greenpeace saat panjat Patung Selamat Datang untuk bentangkan spanduk protes di Bundaran HI. (Foto: Greenpeace).
Pada 20 Oktober 2026, Greenpeace kembali menggelar aksi di Bundaran HI dengan membentangkan dua spanduk raksasa dari atas Patung Selamat Datang.
Spanduk pertama bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” yang menghadap ke arah Istana Merdeka di utara, sedangkan spanduk kedua berbunyi “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” Menghadap ke selatan Bundaran HI.
Aksi yang bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran ini menyoroti dampak krisis iklim terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari bencana alam hingga penurunan penghasilan dan daya beli.
Dalam riset terbarunya bertajuk “Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah“, Greenpeace mengungkap kelompok pekerja seperti nelayan, pengemudi ojek daring, dan pekerja lepas termasuk yang paling terdampak.
Melalui dua spanduk tersebut, Greenpeace mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim sekaligus memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Tiga aksi Greenpeace di Bundaran HI memperlihatkan bagaimana sebuah monumen publik dapat menjadi medium penyampaian pesan lingkungan dan kritik kebijakan.
Dengan spanduk raksasa dan instalasi visual yang mencolok, Greenpeace berupaya membawa isu lingkungan ke ruang publik. Pesan yang disampaikan pun tidak berhenti pada kerusakan alam, tetapi juga menyentuh arah kebijakan, proses politik, dan kesejahteraan masyarakat.