Biar nggak ikut terseret debat kusir, yuk kenali empat cacat logika yang perlu kamu waspadai!
1. Whataboutism
Pola pertama adalah whataboutism, yaitu ketika seseorang menanggapi kritik dengan mengalihkan pembahasan ke persoalan lain. Akibatnya, isu yang semula dibicarakan justru nggak mendapat jawaban.
Misalnya, kamu lagi bikin konten yang mengkritik UU Omnibus karena kamu melihat UU ini berpotensi merugikan buruh dan lingkungan. Bukannya menanggapi kritik tersebut, kamu malah dapat koment, “Kenapa cuma bahas UU Omnibus? Kenapa nggak demo UU Perampasan Aset?“
Padahal, mengkritik satu kebijakan bukan berarti mengabaikan kebijakan lainnya. Kedua persoalan itu bisa sama-sama penting dan layak dibahas.
Kalau menemukan pola seperti ini, kamu bisa mengembalikan diskusi ke masalah awal. Sebab, pertanyaan tentang isu lain tidak otomatis membatalkan kritik yang sedang disampaikan.
2. Strawman Fallacy
Selain mengalihkan isu, ada juga pola debat yang membuat argumen seseorang terdengar lebih ekstrem daripada pernyataan aslinya. Dalam logika, pola ini disebut strawman fallacy atau sesat pikir manusia jerami.
Contohnya, kamu mengusulkan pembatasan pembukaan lahan sawit untuk melindungi hutan dan masyarakat adat. Namun, usulan itu justru dibalas dengan pernyataan, “Jadi, kamu ingin semua perkebunan sawit ditutup?“
Padahal usulan untuk membatasi pembukaan lahan baru tidak sama dengan tuntutan menutup seluruh perkebunan sawit.
Kalau kamu mendapat komentar seperti ini langsung aja tegaskan kembali maksud pernyataan mu tanpa ikut terpancing. Minta lawan bicara membahas usulan yang sebenarnya, bukan kesimpulan ekstrem yang tidak pernah kamu sampaikan.
3. False Dilemma
Pola berikutnya adalah false dilemma, yaitu ketika sebuah persoalan digambarkan seolah hanya memiliki dua pilihan, padahal masih ada alternatif lain.
Contohnya bisa ditemukan dalam perdebatan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kamu mengkritik pelaksanaan dan alokasi anggarannya karena ada kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang menurutmu lebih mendesak, tapi kolom komentar mu malah dipenuhi dnegan pertanyaan, “Jadi, kamu lebih memilih anak-anak kelaparan daripada mendapatkan makanan bergizi?“
Padahal, mengkritik pelaksanaan MBG tidak sama dengan menolak pemenuhan gizi anak. Program tersebut tetap bisa memiliki tujuan yang baik, tetapi pelaksanaannya perlu dievaluasi jika ditemukan persoalan keamanan makanan, ketepatan sasaran, atau penggunaan anggaran.
Artinya, masyarakat tidak harus memilih antara mendukung seluruh program tanpa kritik atau menolaknya secara total. Ada pilihan lain, yaitu mendukung pemenuhan gizi anak sekaligus menuntut pelaksanaan yang lebih aman dan efektif.
4. Ad Hominem
Kalau tiga pola sebelumnya berkaitan dengan pengalihan atau pemelintiran argumen, ad hominem justru menyerang orang yang menyampaikan kritik.
Cacat logika ini terjadi ketika seseorang menyerang karakter, latar belakang, atau kebiasaan lawan bicara alih-alih menjawab substansi pernyataannya.
Misalnya, seseorang mengkritik pembukaan lahan sawit yang dinilai mengancam hutan dan masyarakat adat. Kritik tersebut malah dibalas dengan komentar, “Kamu sendiri masih pakai sabun, sampo, dan minyak goreng berbahan sawit. Jangan sok peduli lingkungan!“
Padahal, menggunakan produk berbahan sawit tidak otomatis membuatmu tidak boleh mengkritik ekspansi perkebunan sawit. Kebiasaan konsumsi seseorang tidak serta-merta menjawab persoalan mengenai dampak lingkungan atau hak masyarakat adat.
Karena itu, pembahasan seharusnya diarahkan pada bukti kerusakan lingkungan, aturan yang berlaku, hak masyarakat yang terdampak, serta pihak yang memperoleh keuntungan. Menyerang kehidupan pribadi pengkritik tidak membuat persoalan tersebut hilang.
Empat cacat logika tersebut menunjukkan bahwa perdebatan bisa kehilangan arah ketika orang lebih sibuk mengalihkan isu, memelintir argumen, memaksakan pilihan, atau menyerang pribadi daripada membahas masalah.
Meski begitu, orang yang berbeda pendapat tidak otomatis merupakan buzzer. Siapa pun bisa melakukan kesalahan berpikir, baik disengaja maupun karena kurang memahami persoalan.
Jadi, ketika menemukan pola debat seperti ini, coba kembalikan pembicaraan ke inti masalah, minta bukti yang relevan, dan jelaskan bagian argumen yang keliru. Kalau diskusi terus berputar tanpa menghasilkan apa-apa, kamu juga tidak harus membalas setiap komentar.
Sebab, kritik yang baik seharusnya dijawab dengan argumen dan bukti, bukan dengan serangan yang justru menjauhkan pembicaraan dari persoalan sebenarnya.