Mengutip dari terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan judul Rumah Kebangsaan: Dalem Jayadipuran Periode Tahun 2014, berikut nama tokoh yang tidak sepopuler tokoh-tokoh utama Sumpah Pemuda, namun kontribusi mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
- Poernomowoelan merupakan salah satu tokoh perempuan yang tercatat sebagai pembicara dalam Kongres Pemuda II pada 1928. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya pendidikan anak untuk membentuk karakter dan kedisiplinan sejak dini.Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga perlu membangun kepribadian yang baik sebagai bekal generasi penerus bangsa.Kehadirannya membuktikan bahwa perempuan telah mengambil bagian dalam menyampaikan gagasan penting di tengah pergerakan nasional.
- Siti Soendari menjadi tokoh perempuan berikutnya yang turut menyampaikan pidato dalam Kongres Pemuda II.Ia menekankan pentingnya menanamkan rasa cinta tanah air melalui pendidikan. Menariknya, pidato tersebut disampaikan menggunakan bahasa Belanda, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu agar dapat dipahami peserta kongres.Kiprah Siti Soendari berlanjut dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta.Dalam kongres tersebut, ia menyampaikan pidato berjudul Kewadjiban dan Tjita-tjita Poeteri Indonesia menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia menjadi bentuk dukungannya terhadap semangat persatuan yang telah diikrarkan melalui Sumpah Pemuda.
- Emma Poeradiredja merupakan aktivis perempuan yang terlibat dalam organisasi Jong Java dan turut menghadiri Kongres Pemuda II. Selain aktif dalam gerakan kepemudaan, Emma juga dikenal melalui kiprahnya dalam organisasi Pasundan Istri (PASI), yang memperjuangkan kemajuan dan pemberdayaan perempuan.Perjuangannya mencakup berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, dan peningkatan kedudukan perempuan dalam masyarakat.Keterlibatan Emma menunjukkan bahwa gerakan perempuan dan gerakan kepemudaan memiliki hubungan erat dalam membangun kesadaran kebangsaan sebelum Indonesia merdeka.
Perjuangan Perempuan
Semangat persatuan yang lahir melalui Kongres Pemuda II turut menguatkan gerakan perempuan Indonesia. Tidak sampai dua bulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda, Kongres Perempuan Indonesia Pertama diselenggarakan pada 22–25 Desember 1928 di Dalem Jayadipuran, Yogyakarta.
Berdasarkan dokumentasi Direktorat Jenderal Kebudayaan, kongres tersebut diprakarsai oleh tujuh organisasi perempuan dan dihadiri sekitar 700 peserta dari 30 organisasi.
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan gagasan mengenai pendidikan, kedudukan perempuan, perkawinan, serta kemajuan bangsa.
Kiprah Poernomowoelan, Siti Soendari, dan Emma Poeradiredja memperlihatkan bahwa sejarah Sumpah Pemuda tidak dapat dilepaskan dari kontribusi perempuan.
Mereka turut membangun fondasi persatuan Indonesia melalui pendidikan, pemikiran, dan gerakan organisasi.